Selasa, Juli 21, 2009

Dewan Langit

Tak ada senyum mengembang,

tak ada raut ramah menayang

mata-mata tajam lurus

menghujam,

mencengkeram


Aku rebah menyerah,

tiada sanggup melihat darah,

jeritan luka membakar jiwa,

erangan sakit meregang nyawa

Sang Satria merana

ungkapkan semua rasa


Semua wajah kaku

menatap Sang Satria membisu


Kami tak mendengarkan rintihan

Kami tak peduli kesakitan

Kami melihat kewajiban,

tugas harus ditunaikan


Waktu terus berjalan,

tujuan menanti di hadapan


Sekarang simpan rengekanmu,

buang jauh-jauh penyesalan itu

Katakan kesanggupanmu,

atau tanggung jawab dialihkan


Sang Satria terdiam,

raut wajah sekejap mengejam

Tampak sekilas bayangan,

beribu nyawa lagi berguguran


Sang Satria tergetar,

oleh suara menggelegar,


“Aku bukan penghukum,

tapi membuat perhitungan

engkau bukan membunuh,

tapi hanya disuruh patuh


Jangan kau sedih karna Kupilih

sebagai Satria pemutus duka

Siapa yang baik akan bahagia

Siapa yang jahat akan terhina

Akulah penentu segala


Sang Satria tak sanggup bicara

mulut terkunci, kaki tercagak ke buana


Minggu, Juli 12, 2009

Takdir Satria Langit (2)

Semilir angin bertiup

lamat-lamat bau amis menyeruak,

hening memenuhi padang,

kengerian menggetarkan hati


Sang satria menatap nyalang

hamparan ilalang bergoyang gemulai,

tak ada lagi musuh yang bergerak

tak ada lagi denting logam beradu


Tesesan darah di ujung pedang yang memerah

luluh ke tanah membawa marah dan resah


Sudah menganga ribuan mata luka,

sudah kucabut ribuan nyawa ke angkasa


Sang Satria menundukkan kepala

terbayang ribuan janda menangisi suaminya,

terngiang teriakan ribuan anak mencari bapaknya


Inikah takdirku sebagai satria,

menegakkan kekuasaan di atas luka dan derita?

Meninggalkan keharuman nama dengan membunuh manusia?


Tuhan,

cabut nyawaku sekarang sebagai bukti sesalku

atau kau tumbuhkan sejuta kemakmuran,

untuk menghibur janda yang kehilangan,

memberi masa depan anak yang ditinggalkan


Tuhan

Beri aku kekuatan …


Tetesan darah terakhir jatuh

pedang masih tergenggam erat

Sang satria bergeming tanpa suara,

wajah semakin tertunduk layu,

duka menyelimuti hati

Rabu, Juni 17, 2009

Takdir Satria Langit

Kelebatan sinar,

gemerincing cahaya bertemu cahaya

debu membumbung ke langit


Sang Satria terdesak

Keringat mengucur deras

menyapu wajah bersalut kerikil

gemeletuk gigi menahan geram

Sang Satria bertahan


Hei!

Rapatkan barisan, jangan biarkan musuh mengacau formasi!

ratusan tentara mengatur posisi

ribuan lainnya yang tak terlihat menghimpun kekuatan


Ini bukan perang biasa

tapi akhir menentukan segalanya

kekalahan membayang di depan mata

tapi kemenangan tetap memberi asa


Seorang satria jangan jumawa

lengah sedetik berarti nyawa

senyapkan suara

hanya nafas, hanya denyut nadi terasa


Maju!

Songsong takdir kita

Kemenangan bukan di ujung pedang

tapi ada di kelengahan musuh kita


Biarkan sepuluh jurus untuk mereka

di akhir langkah kita punya sejurus rahasia

tak ada yang menduga, tak pernah diduga

bahwa akhir menentukan segalanya

Aku Bingung Harus Bagaimana (Puisi)

Ketika kuketuk pintumu,

lalu aku nyelonong masuk, kau bilang tak sopan

Mestinya masuk kalau sudah disilakan


Ketika kuketuk pintumu,

aku menunggu kau silakan, kau bilang jangan sungkan-sungkan

Mestinya masuk saja, seperti rumah orang lain saja


Ketika kuhaus,

aku minum airmu, kau bilang jangan sembarangan

Mestinya bilang minta dulu, diizinkan baru diambil


Ketika kuingin minum,

aku tanya, “Bolehkah aku minum?”, kau bilang kenapa harus begitu

Mestinya ambil saja, cuma air putih saja


Ketika kau selesai bicara dan aku berpendapat,

Kau melotot padaku, kau bilang jangan kurang ajar

Mestinya pakai tata krama, menghormati orang tua


Ketika kau bicara, aku angkat tangan

“Maaf, Pak, saya mau berpendapat, bolehkah?”, lantas kau tertawakan

Mestinya ngomong saja, kayak di forum resmi saja.


Ketika kau salah ngomong, aku mengkritik

Kau menghardikku, kau bilang anak muda harus menghormati orang tua

Mestinya dengan suara lembut dan tata krama


Ketika kau keliru, aku berkata dengan sopan

“Maaf, Pak, apa yang Bapak sampaikan tidak sesuai dengan kenyataan.”

Kau berdiri dengan muka merah,

dan aku sadar seharusnya aku tidak ke rumahmu ini