Senin, Maret 09, 2009

Mesjid Jami Sei Jingah Bernilai Historis Nan Heroik

Banjarmasin adalah ibukota Propinsi Kalimantan Selatan. Kota yang terkenal dengan julukan kota seribu sungai ini juga sering disebut kota dengan seribu mesjid. Karena di mana pun anda berada di bagian kota ini, tidak akan pernah sepi dari kehadiran mesjid dan mushola sebagai tempat salat lima waktu bagi umat Islam di daerah ini.


Apabila Wikimuer sedang berkunjung ke Banjarmasin dan kebetulan waktu salat sudah tiba, tidak usah bingung mencari tempat untuk salat. Anda tinggal bertanya kepada penduduk sekitar dan mereka akan menunjukkan mesjid, musholla atau dalam bahasa daerah disebut langgar (sejenis surau di daerah lain) yang letaknya tidak terlalu berjauhan. Bahkan hampir di setiap gang atau komplek perumahan bisa ditemukan mesjid atau langgar sehingga bagi mushafir (orang yang dalam perjalanan jauh) mudah menemukan tempat untuk beristirahat dan salat.


Salah satu mesjid yang cukup terkenal dan termasuk tua adalah Mesjid Jami yang terletak di Jalan Sei Jingah. Mesjid berarsitektur joglo (rumah khas Jawa Tengah) yang dibuat dengan bahan dasar kayu besi (ulin) ini dibangun di tahun 1900. Mesjid yang pernah dikunjungi oleh Presiden SBY untuk bershalat Jumat ini mempunyai sejarah yang penuh heroik di masa pembangunannya.


Konon ceritanya di masa itu masyarakat Banjar kesulitan beribadah karena tidak ada mesjid yang cukup besar untuk menampung orang banyak. Pemerintah kolonial Belanda yang kehadirannya tidak disukai oleh masyarakat Banjar berusaha menggunakan kesempatan itu untuk mengambil hati orang Banjar. Mereka berniat menyumbangkan uang hasl pajak untuk pembangunan mesjid. Kebetulan saat itu pendapatan pajak pemerintah Belanda dari hasil memeras rakyat Kalimantan sedang berlimpah, terutama dari hasil hutan seperti karet dan damar.


Namun masyarakat Banjar menolak mentah-mentah tawaran itu. Bagi orang Banjar yang beragama Islam adalah haram hukumnya menerima pemberian dari penjajah Belanda, apalagi untuk pembangunan mesjid. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mereka secara swadaya dan bergotong- membangun tempat ibadah tersebut. Tua-muda, laki-laki dan perempuan secara bahu-membahu mengumpulkan dana. Ada yang menyumbangkan tanah, perhiasan emas atau hasil pertanian, sehingga tidak lama kemudian di atas tanah seluas 2 hektar berdirilah sebuah mesjid yang indah dan megah sebagai tempat beribadah dan kegiatan sosial lainnya hingga sekarang.


Mesjid Jami ini rencananya akan direnovasi oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan dengan menelan dana sekitar 9,5 milyar Rupiah. Renovasi ini dilakukan dengan tidak mengubah bentuk dasar dan arsitektur aslinya, sehingga nilai-nilai historisnya masih tetap terjaga.



Sumber gambar : http://s173.photobucket.com/albums/w73/Oonk_01/?action=view&current=Dpnmasjidtertua.jpg

.

Tidak ada komentar: