Jumat, September 11, 2009

Don Stupido: Uang adalah Undang-undang

Sejak jatuhnya kekuasaan Don Sierra, ayahnya, Don Stupido memutuskan untuk merebut kembali tahta itu. Dengan bermodal jaringan yang telah dibuatnya, tidak sulit baginya untuk memulai langkah-langkah meraih kembali kejayaan keluarga. Uang adalah undang-undang, begitu prinsipnya.


Bisnisnya adalah mesin pencetak uang yang dahsyat. Dari bisnis legal hingga perdagangan manusia, dari jual beli kekayaan alam hingga obat-obat terlarang, saham di berbagai perusahaan multi nasional dan manca negara, senjata gelap, cyber crime, pelacuran kelas tinggi, pendek kata meliputi segala bidang kehidupan. Octopus dengan seribu kaki dan tangan, menjerat dan menghisap korbannya.


Don Stupido bukan seorang yang bodoh seperti arti namanya. Ketika Don Sierra masih berkuasa, direkrutnya orang-orang dungu penghamba uang untuk ditempatkan di posisi-posisi penting di pemerintahan negara Bellisima Isola, dalam rangka mendukung kekuasaan ayahnya, dan sekaligus untuk memperluas kerajaan bisnisnya. Mereka ada yang menjadi tentara, polisi, hakim, dan hamba hukum lainnya, bankir, pebisnis, politikus, hingga pimpinan-pimpinan kriminal di sektor-sektor kecil. Kita adalah gurita, menguasai dan mengisap, begitu motonya.


Don Sierra memang tidak berkuasa lagi, namun titisannya, Don Stupido menjadi bayang-bayang bagi negara. Aku adalah hantu bagi para elite Riforma, kelompok pembaharu yang berhasil menyingkirkan ayahnya, begitu sesumbarnya. Mereka hanya akan merasakan manisnya tampuk kekuasaan sekejap saja. Selebihnya, aku akan merampasnya kembali.


Dengan uang dia menyokong pemilihan governatore dan regent di wilayah-wilayah Bellisima Isola. Bukan hanya itu, pengangkatan seorang hakim, jaksa, sampai pejabat penting di bank sentral sudah dicampurinya. Beberapa keputusan penting yang berhubungan dengan politik, hukum dan ekonomi, sudah berhasil diarahkannya untuk mendukung kerajaan bisnisnya.


Kaki tangannya di Legislatore, yang bersarang di partai-partai politik, berperan besar menghasilkan undang-undang untuk kebangkitan Don Sierra junior. Kita memerlukan pemimpin muda, teriak pendukunganya, dan itu adalah Don Stupido. Dengan uang disokongnya partai-partai baru, politikus-politikus dadakan, termasuk politikus tua pendukung setia Don Sierra. Karpet merah sudah dibentangkan, siap dilangkahi Don Stupido untuk membangkitkan kembali kemahsyuran Don Sierra sebagai penguasa negara.


Ketika di akhir masa kekuasaan ayahnya, Don Stupido merasakan keadaan sudah tidak mungkin lagi untuk dipertahankan. Para politikus yang menjadi musuh besar ayahnya sudah berhasil menanamkan benih-benih kebencian di tengah masyarakat, khususnya kaum muda, terhadap Don Sierra. Mereka bergerak sangat cepat dan ingin bergegas menggulingkan ayahnya dari tahta, tanpa mau menunggu waktu. Sayap kanan dan kiri, yang sebagian berhasil dikuasai Don Stupido, menunjukkan adanya pengkhianatan. Mungkin mereka melihat ada uang dan kekuasaan di masa depan, di tangan kelompok Riforma.


Orang susupannya di bank sentral dipanggilnya. Perlu dilakukan sebuah langkah pengamanan, khususnya pendanaan organisasi yang akan terancam bahaya apabila ayahnya tidak berkuasa lagi. Selain itu, di masa depan dia perlu uang lebih banyak dalam rangka merebut kembali kekuasaan Don Sierra yang terampas. Sebuah gagasan brilian muncul di benaknya tadi malam, dan itu diutarakannya kepada orang susupannya itu.


Aku ingin negara mencetak uang dalam bentuk plastik, bahan yang tahan air dan juga tidak mudah berkarat, dan nilainya 100.000 Volto perlembar – suatu nilai uang yang belum pernah dibuat sebelumnya, begitu instruksi Don Stupido. Kaki tangannya terdiam, tidak mudah untuk merealisasikan ide bosnya itu. Apalagi dia hanya seorang pejabat setingkat deputi. Tapi dia akan mencobanya, akan dicarinya konsep dan alasan yang kuat untuk diajukan kepada kepala bank sentral dan Legislatore, yang saat itu merupakan pendukung Don Sierra juga.


Karena standar uang koin adalah berbahan logam, maka satu-satunya yang mungkin direkayasa adalah bank note. Uang yang sebelumnya berbahan kertas ini akan dibuat plastik. Alasannya? Sederhana, plastik adalah bahan yang tahan air, sehingga daya tahan uang cukup kuat untuk tidak terlalu sering dicetak ulang. Sangat sederhana. Seluruh anggota dewan bank sentral beserta anggota Legislatore mendukung ide brilian itu. Bellisima Isola akan menjadi negara hebat yang memiliki uang dari plastik dengan kelebihan-kelebihannya.


Sebuah konsep digelar. Uang baru itu bergambar pejuang elite negara, lawan politik Don Sierra, sebagai penghargaan kepada orang yang berjasa untuk negara. Dengan memilih negara yang berada jauh di seberang benua sebagai tempat untuk mencetaknya, Don Stupido mempunyai pemikiran rahasia. Dia akan merampok uang itu!


Canguro, negara pencetak uang baru itu, terletak sangat jauh berlainan benua dengan Bellisima Isola. Uang yang selesai dicetak akan dikirimkan dengan armada kapal laut menyeberangi samudera, yang memuatnya dalam belasan kontainer besar, dan dikirimkan ke Bellisima Isola dengan dikawal pasukan elite negara. Ada empat kapal dengan enam belas kontainer besar berisi uang plastik itu di dalamnya. Satu kontainer berisi 500 milyar Volto. Jadi kalau dihitung-hitung jumlah keseluruhan uang adalah 32 trilyun Volto!


Don Stupido memanggil Mayor Jenderal Prendere, kaki tangannya sekaligus iparnya, yang menjabat sebagai komandan pasukan elite yang ditugaskan menjadi pengawal uang tersebut. Dipaparkannya rencana bulusnya, dan diperintahkannya hanya orang-orang tepercaya yang diikutkan dalam operasi itu. Kalau ada yang mencurigakan, habisi, kata Don Stupido sambil menggerakkan telapak tangannya menyilang seperti memotong leher sendiri.


Beberapa hari kemudian tersiar kabar pengiriman uang negara dari negara Canguro mengalami musibah diserang badai di tengah samudera, dan empat buah kapal yang memuat belasan kontainer berisi uang plastik baru, lenyap hilang seperti ditelan hantu.


Setahun setelah peristiwa nahas itu, kelompok anti Don Sierra berhasil mengkudeta rezim otoriter tersebut. Pemuda-pemuda, para penggerak perubahan dan pejuang pembaharuan politik berhasil menduduki gedung Legislatore, dan memaksa Don Sierra di istananya yang megah untuk menyerahkan kekuasaannya kepada rakyat, atau kudeta berdarah akan menjadi pilihan. Tentara tidak bisa berbuat apa-apa, karena desakan rakyat begitu kuat. Viva era riforma!


Bagi Don Stupido, kondisi ini tidak bisa ditolaknya. Ditariknya dirinya dari publik, bersembunyi di balik hiruk-pikuk kemenangan kaum riforma. Nikmatilah kemenangan kalian, cicipilah manisnya sebentar saja, dan tunggu masa aku akan merebutnya kembali, kata Don Stupido dalam hati.


Ketika eforia Riforma merasuki semua lapisan masyarakat, dan pemilu dilaksanakan untuk memilih anggota Legislatore, Don Stupido ikut serta mewarnainya. Dengan uang dibentuknya partai-partai baru, dipilihnya para kaki tangannya sebagai politikus-politikus karbitan, dengan uang pengaruh politik Don Stupido seperti racun yang merayap ke pembuluh-pembuluh darah dan bersarang di otak dan jantung bangsa.


Gerilya kaki tangannya tidak menemui banyak rintangan. Selain berkamuflase sebagai orang-orang Riforma, mereka juga mempunyai uang yang banyak dari Don Stupido untuk membeli mereka yang berada di partai-partai lama. Hantu Don Stupido mulai mewujud nyata.


Bertahun-tahun sejak kejatuhan sang ayah, Don Stupido akhirnya menampakkan diri ke permukaan. Pemberitaan tentang sepak terjangnya di dunia ekonomi mulai memenuhi media. Dibelinya saham perusahaan-perusahaan besar, didirikannya pabrik-pabrik di seluruh negara, dan yang paling mengagetkan banyak pihak yang tidak sepaham dengannya adalah Don Stupido mencalonkan diri sebagai calon penguasa negara.



(Uang adalah undang-undang, Don Stupido)

Sabtu, Agustus 08, 2009

Si Burung Merak Terbang ke Langit Jauh

Hidup dalam rangkaian kata, bergelora api dalam jiwa

semangat hidup seniman tak redup

terbang bebas, berteriak kepada jaman


Engkau cermin hati nurani dan kemanusiaan,

buku yang tak dapat dibakar atau dilarang,

benteng yang tak bisa dihancur-leburkan


Perjuanganmu amar ma’ruf nahi munkar

seorang hamba yang lebur dalam istighfar

mencari ridho Yang Maha Besar


Lepaslah dari sangkar

Jangan berpaling, teruslah berjalan

Lihat cahaya yang telah kau temukan,

membimbingmu dalam kebenaran

menuju kepada-Nya


(Selamat jalan Wahyu Sulaiman Rendra, Semoga Allah Meridhoimu)

Kamis, Juli 23, 2009

Putik-putik Jiwa

Putik-putik jiwa,

bertumbuhan dalam taman syurga

mekar bersemi melayang ke bumi


Putik-putik jiwa,

semangat hati penggugah sukma

dalam dekapan bunda

mereguk cinta tetesan kasih,

mengaliri raga menghangatkan rasa


Besarlah kau bungaku

Berkembanglah putra bangsa

meraih cita dan mimpi dunia


Semaraklah kau padma syurgawi

tetap bersama-Nya dalam doa

meraih nikmat ragawi

dalam batin yang ma’rifati


Putik-putik jiwa

Engkaulah harapan

Engkaulah cahaya masa depan


(Untuk putik-putik jiwa, Selamat Hari Anak Nasional, Bersemilah, Berkembanglah!)

Selasa, Juli 21, 2009

Dewan Langit

Tak ada senyum mengembang,

tak ada raut ramah menayang

mata-mata tajam lurus

menghujam,

mencengkeram


Aku rebah menyerah,

tiada sanggup melihat darah,

jeritan luka membakar jiwa,

erangan sakit meregang nyawa

Sang Satria merana

ungkapkan semua rasa


Semua wajah kaku

menatap Sang Satria membisu


Kami tak mendengarkan rintihan

Kami tak peduli kesakitan

Kami melihat kewajiban,

tugas harus ditunaikan


Waktu terus berjalan,

tujuan menanti di hadapan


Sekarang simpan rengekanmu,

buang jauh-jauh penyesalan itu

Katakan kesanggupanmu,

atau tanggung jawab dialihkan


Sang Satria terdiam,

raut wajah sekejap mengejam

Tampak sekilas bayangan,

beribu nyawa lagi berguguran


Sang Satria tergetar,

oleh suara menggelegar,


“Aku bukan penghukum,

tapi membuat perhitungan

engkau bukan membunuh,

tapi hanya disuruh patuh


Jangan kau sedih karna Kupilih

sebagai Satria pemutus duka

Siapa yang baik akan bahagia

Siapa yang jahat akan terhina

Akulah penentu segala


Sang Satria tak sanggup bicara

mulut terkunci, kaki tercagak ke buana


Minggu, Juli 12, 2009

Takdir Satria Langit (2)

Semilir angin bertiup

lamat-lamat bau amis menyeruak,

hening memenuhi padang,

kengerian menggetarkan hati


Sang satria menatap nyalang

hamparan ilalang bergoyang gemulai,

tak ada lagi musuh yang bergerak

tak ada lagi denting logam beradu


Tesesan darah di ujung pedang yang memerah

luluh ke tanah membawa marah dan resah


Sudah menganga ribuan mata luka,

sudah kucabut ribuan nyawa ke angkasa


Sang Satria menundukkan kepala

terbayang ribuan janda menangisi suaminya,

terngiang teriakan ribuan anak mencari bapaknya


Inikah takdirku sebagai satria,

menegakkan kekuasaan di atas luka dan derita?

Meninggalkan keharuman nama dengan membunuh manusia?


Tuhan,

cabut nyawaku sekarang sebagai bukti sesalku

atau kau tumbuhkan sejuta kemakmuran,

untuk menghibur janda yang kehilangan,

memberi masa depan anak yang ditinggalkan


Tuhan

Beri aku kekuatan …


Tetesan darah terakhir jatuh

pedang masih tergenggam erat

Sang satria bergeming tanpa suara,

wajah semakin tertunduk layu,

duka menyelimuti hati

Rabu, Juni 17, 2009

Takdir Satria Langit

Kelebatan sinar,

gemerincing cahaya bertemu cahaya

debu membumbung ke langit


Sang Satria terdesak

Keringat mengucur deras

menyapu wajah bersalut kerikil

gemeletuk gigi menahan geram

Sang Satria bertahan


Hei!

Rapatkan barisan, jangan biarkan musuh mengacau formasi!

ratusan tentara mengatur posisi

ribuan lainnya yang tak terlihat menghimpun kekuatan


Ini bukan perang biasa

tapi akhir menentukan segalanya

kekalahan membayang di depan mata

tapi kemenangan tetap memberi asa


Seorang satria jangan jumawa

lengah sedetik berarti nyawa

senyapkan suara

hanya nafas, hanya denyut nadi terasa


Maju!

Songsong takdir kita

Kemenangan bukan di ujung pedang

tapi ada di kelengahan musuh kita


Biarkan sepuluh jurus untuk mereka

di akhir langkah kita punya sejurus rahasia

tak ada yang menduga, tak pernah diduga

bahwa akhir menentukan segalanya

Aku Bingung Harus Bagaimana (Puisi)

Ketika kuketuk pintumu,

lalu aku nyelonong masuk, kau bilang tak sopan

Mestinya masuk kalau sudah disilakan


Ketika kuketuk pintumu,

aku menunggu kau silakan, kau bilang jangan sungkan-sungkan

Mestinya masuk saja, seperti rumah orang lain saja


Ketika kuhaus,

aku minum airmu, kau bilang jangan sembarangan

Mestinya bilang minta dulu, diizinkan baru diambil


Ketika kuingin minum,

aku tanya, “Bolehkah aku minum?”, kau bilang kenapa harus begitu

Mestinya ambil saja, cuma air putih saja


Ketika kau selesai bicara dan aku berpendapat,

Kau melotot padaku, kau bilang jangan kurang ajar

Mestinya pakai tata krama, menghormati orang tua


Ketika kau bicara, aku angkat tangan

“Maaf, Pak, saya mau berpendapat, bolehkah?”, lantas kau tertawakan

Mestinya ngomong saja, kayak di forum resmi saja.


Ketika kau salah ngomong, aku mengkritik

Kau menghardikku, kau bilang anak muda harus menghormati orang tua

Mestinya dengan suara lembut dan tata krama


Ketika kau keliru, aku berkata dengan sopan

“Maaf, Pak, apa yang Bapak sampaikan tidak sesuai dengan kenyataan.”

Kau berdiri dengan muka merah,

dan aku sadar seharusnya aku tidak ke rumahmu ini

Jumat, Maret 27, 2009

Jangan kenakan pakaian-Nya
















Pabila kau pandang wajah-Nya

Tak 'kan kau temukan sedikit pun keburukan

yang ada hanya keindahan

hanya keindahan ...



Pabila kau dengar perkataan-Nya

Tak' kan kau temukan sedikit pun kejelekan

yang ada hanya kerinduan

hanya kerinduan ...



Pabila kau lihat perbuatan-Nya

Tak' kan kau temukan sedikit pun kejahatan

yang ada hanya kasih

hanya kasih ...



Ketika manusia berpaling dari-Nya

Dipanggil-Nya dengan lembut



Ketika manusia melanggar perintah-Nya

Ditegurnya-Nya dengan kasih



Ketika manusia tidak menghiraukan perintah-Nya

Terus diberikannya peringatan

peringatan …



Berpuluh Rasul, beribu Nabi, berjuta orang suci

Datang silih berganti, menyampaikan suara hati

Ilahi … ilahi … ilahi



Tapi setetes air mani itu berkata dengan sombong,

Akulah tuhan bagi diriku



Sumber gambar : http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/3.jpg

Senin, Maret 09, 2009

Mesjid Jami Sei Jingah Bernilai Historis Nan Heroik

Banjarmasin adalah ibukota Propinsi Kalimantan Selatan. Kota yang terkenal dengan julukan kota seribu sungai ini juga sering disebut kota dengan seribu mesjid. Karena di mana pun anda berada di bagian kota ini, tidak akan pernah sepi dari kehadiran mesjid dan mushola sebagai tempat salat lima waktu bagi umat Islam di daerah ini.


Apabila Wikimuer sedang berkunjung ke Banjarmasin dan kebetulan waktu salat sudah tiba, tidak usah bingung mencari tempat untuk salat. Anda tinggal bertanya kepada penduduk sekitar dan mereka akan menunjukkan mesjid, musholla atau dalam bahasa daerah disebut langgar (sejenis surau di daerah lain) yang letaknya tidak terlalu berjauhan. Bahkan hampir di setiap gang atau komplek perumahan bisa ditemukan mesjid atau langgar sehingga bagi mushafir (orang yang dalam perjalanan jauh) mudah menemukan tempat untuk beristirahat dan salat.


Salah satu mesjid yang cukup terkenal dan termasuk tua adalah Mesjid Jami yang terletak di Jalan Sei Jingah. Mesjid berarsitektur joglo (rumah khas Jawa Tengah) yang dibuat dengan bahan dasar kayu besi (ulin) ini dibangun di tahun 1900. Mesjid yang pernah dikunjungi oleh Presiden SBY untuk bershalat Jumat ini mempunyai sejarah yang penuh heroik di masa pembangunannya.


Konon ceritanya di masa itu masyarakat Banjar kesulitan beribadah karena tidak ada mesjid yang cukup besar untuk menampung orang banyak. Pemerintah kolonial Belanda yang kehadirannya tidak disukai oleh masyarakat Banjar berusaha menggunakan kesempatan itu untuk mengambil hati orang Banjar. Mereka berniat menyumbangkan uang hasl pajak untuk pembangunan mesjid. Kebetulan saat itu pendapatan pajak pemerintah Belanda dari hasil memeras rakyat Kalimantan sedang berlimpah, terutama dari hasil hutan seperti karet dan damar.


Namun masyarakat Banjar menolak mentah-mentah tawaran itu. Bagi orang Banjar yang beragama Islam adalah haram hukumnya menerima pemberian dari penjajah Belanda, apalagi untuk pembangunan mesjid. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mereka secara swadaya dan bergotong- membangun tempat ibadah tersebut. Tua-muda, laki-laki dan perempuan secara bahu-membahu mengumpulkan dana. Ada yang menyumbangkan tanah, perhiasan emas atau hasil pertanian, sehingga tidak lama kemudian di atas tanah seluas 2 hektar berdirilah sebuah mesjid yang indah dan megah sebagai tempat beribadah dan kegiatan sosial lainnya hingga sekarang.


Mesjid Jami ini rencananya akan direnovasi oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan dengan menelan dana sekitar 9,5 milyar Rupiah. Renovasi ini dilakukan dengan tidak mengubah bentuk dasar dan arsitektur aslinya, sehingga nilai-nilai historisnya masih tetap terjaga.



Sumber gambar : http://s173.photobucket.com/albums/w73/Oonk_01/?action=view&current=Dpnmasjidtertua.jpg

.