Minggu, Juli 12, 2009

Takdir Satria Langit (2)

Semilir angin bertiup

lamat-lamat bau amis menyeruak,

hening memenuhi padang,

kengerian menggetarkan hati


Sang satria menatap nyalang

hamparan ilalang bergoyang gemulai,

tak ada lagi musuh yang bergerak

tak ada lagi denting logam beradu


Tesesan darah di ujung pedang yang memerah

luluh ke tanah membawa marah dan resah


Sudah menganga ribuan mata luka,

sudah kucabut ribuan nyawa ke angkasa


Sang Satria menundukkan kepala

terbayang ribuan janda menangisi suaminya,

terngiang teriakan ribuan anak mencari bapaknya


Inikah takdirku sebagai satria,

menegakkan kekuasaan di atas luka dan derita?

Meninggalkan keharuman nama dengan membunuh manusia?


Tuhan,

cabut nyawaku sekarang sebagai bukti sesalku

atau kau tumbuhkan sejuta kemakmuran,

untuk menghibur janda yang kehilangan,

memberi masa depan anak yang ditinggalkan


Tuhan

Beri aku kekuatan …


Tetesan darah terakhir jatuh

pedang masih tergenggam erat

Sang satria bergeming tanpa suara,

wajah semakin tertunduk layu,

duka menyelimuti hati

Tidak ada komentar: