Kamis, Oktober 23, 2008

Silsilah Lambung Mangkurat (Bagian II)


Kisah Pangeran Surya Nata atau Surya Cipta atau Bambang Sukma Raga


Syahdan di Kerajaan Majapahit rajanya tidak mempunyai anak keturunan. Maka berangkatlah Ratu Majapahit ke tepi laut sambil membawa sesajen dan membakar Dupa Astanggi, serta mengadakan puji-pujian bagi Dewa Mulia Raya agar diberikan seorang anak.


Ketika hari sudah gelap, tiba-tiba ada suara yang menyuruhnya menyambut kedatangan seorang kanak-kanak yang bentuknya bulat seperti buah semangka. Kemudian diberi pesan agar kanak-kanak itu diselimuti dengan sarung Seri Gading, beralaskan kain kuning, dinding berwarna kuning dan juga langit-langitnya berwarna kuning yang dimasukkan ke dalam Peti Ranjang yang bertatahkan intan permata. Selain itu harus ditambah dengan radap sesajen berupa 40 macam masak-masakan setiap tahunnya, serta diasapi dengan Dupa Astanggi setiap malam pada hari baik. Dan di dalam petinya ditaburi bunga-bungaan dan wangi-wangian.


Setelah mendengar pesan dari suara yang tidak terlihat orangnya itu, maka pulanglah Ratu Majapahit kembali ke istananya. Diceritakannya apa yang tekah didengarnya itu kepada seluruh isi istana dan dititahkannya agar segera dilaksanakan semua pesan-pesan itu. Maka sibuklah segenap menteri, hulu balang, patih, dayang dan inang pengasuh menyediakan apa-apa yang dipesankan untuk kanak-kanak itu. Setelah selesai semuanya, dibawalah semua perlengkapan dengan si kanak-kanak ke atas balai petani.


Selama si kanak-kanak di dalam pemeliharaan keluarga kerajaan Majapahit, maka seluruh negeri merasakan keamanan dan kemakmuran dan seluruh Nusantara pun tunduk dan takluk kepada pemerintahan Majapahit.


---oo00oo---


Syahdan di Candi Agung, Lambung Mangkurat bersiap-siap hendak berangkat ke Majapahit lengkap bersama para patih dengan menggunakan sebuah perahu. Lambung Mangkurat berencana mencarikan suami seorang raja untuk Puteri Junjung Buih.


Setelah beberapa lama di perjalanan tibalah rombongan Lambung Mangkurat di Majapahit dan langsung menghadap raja Majapahit. Lambung Mangkurat kemudian menyampaikan maksudnya meminta anak untuk dipersuntingkan dengan Puteri Junjung Buih. Raja Majapahit menjelaskan bahwa ia tidak mempunyai anak seperti yang diinginkan oleh Lambung Mangkurat, yang ada hanya seorang anak yang bulat seperti semangka. Apa boleh buat, karena yang ada hanya anak itu dan Lambung Mangkurat merasa tidak enak menolak pemberian raja Majapahit, maka diterimanyalah anak yang bulat seperti semangka itu.


Diadakanlah acara pelepasan anak itu. Dia diusung oleh segenap patih kerajaan, dipayungi dengan payung ubur-ubur kebesaran kerajaan, dan dengan diiringi tabuhan gamelan yang terus-menerus mengantarkannya hingga sampai ke perahu rombongan Lambung Mangkurat.

Ketika dalam perjalanan menuju ke Candi Agung, di muara laut Banjarmasin, kapal rombongan Lambung Mangkurat berhenti dalam keadaan miring tanpa diketahui sebabnya, sehingga anak yang bulat seperti semangka tadi tecebur ke dalam laut. Anak itu kemudian berteriak, kalau mau menjemputnya supaya disediakan radap sesajen dengan dilengkapi tetabuhan gamelan dan payung ubur-ubur dibukakan serta dupa Astanggi dibakar selama tiga hari tiga malam.


Lambung Mangkurat memenuhi permintaan anak itu, acaranya pun genap tiga hari lalu Lambung Mangkurat menabur beras kuning ke laut di hadapan perahu tadi sambil memuji-muji Dewa Mulia Raya dengan harapan Dewa mengabulkan permintaannya.


Tiba-tiba muncullah seorang anak dari dalam air dengan berdiri di atas sebuah agung (gong) yang bernama Agung Manah Diganta dan gong diusung oleh seekor naga. Sambil menyebutkan namanya sendiri, Pangeran Surya Nata, anak itu pun mencabut lidah dari mulut naga yang mengusungnya dan menjelma menjadi sebilah keris yang namanya Keris Naga Selira. Setelah sampai di atas perahu, gong itu dikaitkan dengan basung peradah.


Lambung Mangkurat senang karena sudah memenuhi semua permintaannya, dan anak yang bulat seperti semangka itu pun sudah berganti dengan seorang pemuda gagah perkasa lagi tampan. Anak muda itu yang bernama Pangeran Surya Nata dibawa ke Candi Agung dan kemudian dikawinkan dengan Puteri Junjung Buih, anak angkatnya Lambung Mangkurat.


---oo00oo---



Singkat cerita kehidupan perkawinan Pangeran Surya Nata dengan Puteri Junjung Buih, lahirlah dua orang anak laki-laki, yakni Surya Wangsa yang kemudian kawin dengan Puteri Kelarang Sari, dan Gangga Wangsa yang adik.


Melihat Gangga Wangsa yang belum kawin, datanglah Patih Luhu menghadap Lambung Mangkurat dan berencana hendak mengawinkannya dengan Dayang Dipraja, anak Patih Arya Marangkan orang Bijayu yang tinggal di Muara Umur. Setelah ditanyakan kepada Gangga Wangsa rencana itu dan ia setuju, maka diutuslah oleh Raja Patih delapan orang untuk menjemput Dayang Dipraja. Kedelapan orang itu adalah :


-Patih Luhu

-Patih Pembalah Batung

-Patih Penimba Sugara

-Patih Peruntun Manau

-Patih Gancang Basaru

-Patih Bagalung

-Patih Kariau

-Patih Buntal.


Sesampainya di hadapan Patih Ariya Marangkan, ayahnya Dayang Dipraja, lalu Patih Luhu meminta ijin untuk membawa Dayang Dipraja ke Candi Agung. Ternyata Patih Ariya Marangkan tidak memberikan ijinnya, sehingga terjadilah pertengkaran dan perkelahian. Delapan orang utusan Lambung Mangkurat yang kesemuanya patih berhadapan dengan delapan orang juga.

Perkelahian itu luar biasa, sampai menggegerkan Gunung Malang hingga ke kerajaan Kuripan. Mendengar berita itu, Lambung Mangkurat pun mengirimkan utusannya kepada Patih Arya Marangkan. Perkelahian dihentikan dan Dayang Dipraja boleh dibawa ke Candi Agung dengan syarat hanya akan dikawinkan dengan raja.


Diusunglah Dayang Dipraja oleh Patih Pembalah Batung untuk dibawa ke Candi Agung dan diserahkan kepada Lambung Mangkurat. Kemudian ditanyakan kepada Raden Gangga Wangsa, apakah mau mengawini Dayang Dipraja, dan ternyata Raden Gangga Wangsa tidak mau karena dia hanya mau beristerikan anak raja juga.


Akhirnya Dayang Dipraja dikawini oleh Lambung Mangkurat sendiri dan tidak lama kemudian hamillah Dayang Dipraja. Ketika cukup masa kehamilannya dan hendak melahirkan terdengarlah suara dari dalam perutnya. Suara itu adalah suara anaknya sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak mau kelahirannya sama dengan manusia pada umumnya. Anak itu meminta kelahirannya dengan cara dibelah perut ibunya dengan pisau Kerampagi yang dibungkus dengan daun sirih gegang lintung. Anak itu juga meminta disusui oleh kerbau putih yang diikat di bawah pohon Waringin Kuning. Kemudian dinamailah anak itu dengan nama Puteri Kabu Waringin.


Setelah anak itu besar, Lambung Mangkurat menyuruh Patih Luhu untuk memukul Agung Bandi Tatangar untuk memberi kabar kepada orang banyak di Candi Agung bahwa akan diadakan perkawinan antara Raden Gangga Wangsa, anak angkatnya, dengan Puteri Kabu Waringin, anak kandungnya.


Syahdan acara perkawinan diadakan lebih dari sebulan dengan mengundang seluruh keluarga, sedangkan raja-raja daerah taklukannya juga mengadakan keramaian di kerajaan masing-masing dan masing-masing mereka memberikan upeti sebagai hadiah perkawinan.


Tidak berapa lama Raden Gangga Wangsa pun mempunyai dua orang anak laki-laki. Yang tertua bernama Raden Carang Lelana, yang kemudian kawin dengan Puteri Kelungsu, dan yang adik bernama Raden Sekar Sungsang (Sekar Buga). Ketika Raden Sekar Sungsang masih kecil, ayahnya Raden Gangga Wangsa menghilang secara gaib ke kampung Anjau, maka tinggallah ia dengan ibunya saja.


---oo00oo---



Syahdan kita kembali ke cerita Ratu Pudak Setagal yang tinggal di Banua Hambuku dan dia hendak mengawinkan cucunya, Raden Gulek dengan anak Raja Gagiling, yakni Putri Gading Sapurus.


Untuk keperluan acara perkawinan itu dijemputlah Putri Kabu Waringin untuk membikin kue-kue pekawinan. Ketika putri sedang membikin kue dodol, anaknya sendiri Raden Sekar Sungsang keluar-masuk dapur untuk meminta kue. Hal ini membuat marah ibunya, sehingga dipukulnya anaknya itu dengan Wancuh Gangsa yang berakibat luka di kepala Raden Sekar Sungsang. Setelah mendapatkan luka di kepalanya sebab dipukul oleh ibunya, Raden Sekar Sungsang melarikan diri ke Candi Agung. Namun karena lari sambil menahan sakit di kepala dan juga di hati, Raden Sekar Sungsang salah arah hingga larinya melalui Kamisa Baraja Karang Baraja, Karang Jajar, Karang Tapus sampai ke Kambang Kuning. Di sana dia bertemu dengan orang yang naik perahu lalu dibawalah Raden Sekar Sungsang oleh orang itu ke tanah Jawa.


Di tanah Jawa Raden Sekar Sungsang yang dipanggil dengan nama Raden Sangkuriang menikah dengan anak seorang pejabat di Jawa bernama Galuh Sari Jawa. Selain itu dia juga beristrikan anak seorang Demang Langkatan, yaitu Dewi Rarasati. Raden Sangkuriang alias Raden Sekar Sungsang memperoleh seorang anak dari Galuh Sari Jawa yang bernama Raden Panji Segara yang kemudian dikawinkan dengan Puteri Ratna Sari, anak dari Ratu Giri.


Kemudian Raden Panji Segara diangkat sebagai raja oleh Ratu Giri. Raden Panji Segara menjadi raja pertama dari Raja Susunan, sehingga di beri gelar Ratu Susunan Giri Nata. Dialah awak garis keturunan Susunan Serabut atau Susunan Mataram. Diceritakan bahwa Raden Panji Segara senang dengan kesenian daerah. Di manapun dia bertemu dengan orang yang bisa memainkan alat musik, wayang, tari topeng, tarian-tarian lainnya, Baksa dan gamelan, maka dipanggillah orang-orang itu untuk mengajarinya. Akhirnya Raden Panji Segara memiliki banyak keahlian di bidang seni dan karawitan.


Raden Sangkuriang yang merasa terlalu lama berada di tanah Jawa berniat hendak kembali pulang ke kampung halamannya, Candi Agung, apalagi anaknya pun sudah menjadi raja di tanah Jawa. Raden Sangkuriang alias Raden Sekar Sungsang kemudian mengumpulkan anak dan isterinya untuk memberitahukan rencana kepulangannya kembali ke Candi Agung.


Persiapan untuk perjalanan pulang Raden Sangkuriang pun disiapkan. Segala perangkat kesenian juga turut dibawa. Namun sayangnya dia sudah lupa di mana letak kampung halamannya itu, disebabkan di waktu pergi ke tanah Jawa dulu dia masih anak-anak. Dalam keadaan tidak tahu arah, maka dia pun pulang ke arah matahari terbit. Di sepanjang perjalanan dia selalu bertanya kepada siapa saja orang yang lewat, di manakah negeri Candi Agung itu. Setiap tempat dan negeri disinggahinya, sampai akhirnya dia berhenti di kampung Gegiling.


Di negeri Candi Agung, Putri Kabuwaringin sedang sakit keras, tubuhnya kurus kering karena tidak mau makan dan minum. Dia sedang dirundung kesedihan sebab terkenang akan anaknya, yang tidak pulang-pulang setelah dipukulnya di kepala. Anaknya itu tidak ada kabarnya, apakah hidup atau sudah meninggal dunia.


Melihat kesedihannya anaknya, Putri Kabuwaringin, maka Lambung Mangkurat pun menyuruh para patihnya untuk berangkat ke tanah Jawa mencari cucunya yang melarikan diri semasa kecil, Raden Sekar Sungsang alias Sangkurian. Patih-patih itu adalah Patih Luhu, Patih Pambalah Batung, Patih Panimba Sagara, Patih Peruntun Manau dan Patih Gancang Basaru.


Kelima patih yang disuruh oleh Lambung Mangkurat mencari cucunya berkeliling di tanah Jawa, mulai dari Kediri sampai Singasari tidak juga bertemu dengan Raden Sekar Sungsang. Akhirnya mereka sampai di Gegiling dan bertemu dengan sebuah keramaian, dan ternyata ada orang yang sedang menari topeng. Karena tidak pernah melihat hal seperti itu, mereka pun duduk beristirahat di dekat orang ramai. Namun tidak lama kemudian si penari topeng melakukan gerakan membuka topengnya, dan kejadian ini dilihat oleh Patih Luhu yang langsung berkata kepada Patih Pambalah Batung, “Orang yang menari itu kalau dilihat wajahnya, sangat mirip dengan Pangeran Surya Nata”.


Maka setelah keramaian itu punt usai, didatangilah si penari itu oleh para patih pemimpin rombongan penari topeng itu. Setelah mendengar bahwa mereka hendak ke Candi Agung, maka si pemimpin rombongan penari topeng ingin mengikuti rombongan patih ke Candi Agung.

Singkat cerita, rombongan patih dan Pangeran Sekar Sungsang tiba di Candi Agung. Oleh pihak kerajaan dikumpulkanlah sekawanan dalang di balai peristirahatan dan para patih masing-masing menyediakan balai dan atapnya seperti panggung untuk keramaian.


Setelah selesai menghias balai beratap dengan berbagai hiasan dari kain satin dan sutera dewangga, maka dimulailah acara penampilan kesenian dengan membunyikan gamelan dan alat musik lainnya.


Sedangkan Puteri Kabuwaringin, ibundanya Pangeran Sekar Sungsang sudah sehat dan bugar badannya kembali, bisa duduk untuk makan dan minum disebabkan oleh suara musik gamelan yang didengarnya. Dengan berpakaian dan perhiasan dia bersama dengan dayang-dayang dan inang pengasuh turut menyaksikan tarian topeng yang ditampilkan. Setelah beberapa lagu dilalui, hari malam pun tiba dan acara hiburan dihentikan.


Setelah beberapa hari acara hiburan dilaksanakan di Candi Agung, maka oleh Lambung Mangkurat acara hiburan itu pun dihentikan, dan orang yang bisa menari topeng dan mendalang itu diminta oleh Lambung Mangkurat untuk tinggal di Candi Agung. Kemudian oleh Lambung Mangkurat si penari yang bernama Raden Panji dikawinkan dengan Putri Kabuwaringin.


Ketika suatu hari Putri Kabuwaringin sedang duduk mencari kutu di kepala suaminya, Raden Panji, tiba-tiba dia melihat ada bekas luka di kepala suaminya. Melihat luka itu teringatlah Putri Kabuwaringin dengan anaknya yang hilang. Ditanyakannya kepada suaminya apakah ia adalah Raden Sekar Sungsang, anaknya yang hilang semasa kecil, maka Raden Panji menjawab bahwa ia memang anak yang melarikan diri ke tanah Jawa di waktu kecil.


Kedua ibu dan anak itu pun menangis sambil berpelukan. Namun apa hendak dikata, kalau sudah kehendak Dewa Mulia Raya, Putri Kebuwaringin sudah terlanjur berbadan dua. Putri Kebuwaringin lalu menghadap ayahandanya, Lambung Mangkurat dan menceritakan bahwa Raden Panji yang sudah menjadi suaminya itu adalah anaknya yang hilang dulu, Raden Sekar Sungsang.


Mendengar cerita itu, marah dan malulah Lambung Mangkurat. Disuruhnya orang membuat rumah yang tertutup rapat tidak berjendela dan didalamnya dilapisi dengan dinding tujuh lapis. Setelah rumah itu selesai, maka Putri Kebuwaringin dimasukkan ke dalamnya.


Tak lama genaplah umur kandungan Putri Kabuwaringin, dan lahirlah seorang bayi laki-laki. Oleh Lambung Mangkurat bayi itu dimasukkan ke dalam peti yang dilapisi beledru dan kain sutra yang indah serta anak itu diselimuti dengan Tapih Sarigading (sarung Sarigading), menandakan dia adalah anak raja. Setela itu peti yang berisi anak kecil itu dilarutkan di sungai hingga terbawa arus dan sampai di Bakumpai. Peti berisi bayi itu ditemukan oleh seorang kepala Ngayau orang Biyaju, lalu diambilnya dan diberinya nama Raden Sira Panji yang kemudian dipeliharanya sampai besar.


Menurut cerita Raden Sira Panji inilah yang merajai orang-orang Biyaju sampai anak keturunannya hingga saat ini, dan oleh Lambung Mangkurat Reden Sira Panji diberi wilayah sendiri, yakni di sekeliling Tanah Bumbu, di luar batas Candi Agung.


Setelah cukup umurnya, Raden Panji Sira dikawinkan oleh Lambung Mangkurat dengan anak Patih Luhu, Putri Ratna Masih. Setelah kawin Raden Sekar Sungsang, ayahnya Raden Panji, diangkat oleh Lambung Mangkurat sebagai raja di Candi Agung dengan gelarnya Raja Kaburangan atau Pangeran Agung.


Dari perkawinannya dengan Putri Ratna Masih, Raja Kaburangan dianugrahi 3 (tiga) orang anak, satu orang anak perempuan dan dua anak laki-laki, yakni :


-Putri Ratna Sari bergelar Ratu Lamak atau Dewi Ratna Kecana Wilis.


-Raden Mentri Daha bergelar Pangeran Singa Garuda Maha Raja Suka Rama atau Raden Panji Sekar Susunan Giri.


-Raden Sunting bergelar Ratu Anuum Maharaja Suka Rami.


Setelah Raja Bagalung menjadi Mangkubumi dan anak-anak Raja Kaburangan besar-besar semua, maka kerajaan diserahkan kepada Raden Sunting dan ia gaib ke banua Anjau.


Ketika datang utusan dari kerajaan Mataram ke Candi Agung untuk meminta upeti dan tidak diberi, maka Ratu Lamak atau Putri Ratna Sari dibawa oleh Patih Jenar Jawa ke tanah Jawa.


Sedangkan Raden Sunting mempunyai dua orang anak laki-laki, yakni Gusti Arifin Jaya dan Gusti Simbang Jaya. Setelah kedua anak Raden Sunting besar-besar, maka oleh Pangeran Singa Garuda kekuasaan di Candi Agung diserahkan kepada Gusti Simbang Jaya dengan gelar Pangeran Tumenggung sedangkan Gusti Arifin Jaya diangkat sebagai Mangkubumi dengan gelar Pangeran Suka Rama.


Pada saat itu kerajaan untuk sementara pindah ke Babirik. Yang kakak, Gusti Arifin Jaya berkuasa di wilayah kiri, sedangkan adiknya Gusti Simbang Jaya di wilayah sebelah kiri. Sesudah itu kerajaan pindah lagi ke Daha dan di sinilah terjadi perang. Di Daha inilah Gusti Simbang Jaya kawin dengan Putri Intan Sari.


Syahdan, Pangeran Tumenggung atau Gusti Simbang Jaya yang berkuasa sebagai raja di Candi Agung, di Daha akan mengadakan haul tahunan. Di haul tersebut disiapkan Radap Sesajen selengkapnya dengan makanan empat puluh macam dan diiringi dengan hiburan keramaian berupa penampilan wayang dan sebagai dalangnya adalah Pangeran Tumenggung sendiri.


Malam itu juga Pangeran Suka Rama atau Gusti Arifin Jaya, kakanya Pangeran Tumenggung, menyuruh orang Bayanan yang bernama Banta Danta untuk membunuh Pangeran Tumenggung. Untuk terlaksananya pembunuhan itu, Pangera Suka Rama menyerahkan sebilah keris pusaka kepada Banta Danta. Dan kepada Banta Danta diberi janji akan dikawinkan dan diberi kekuasaan dengan diberi gelar Pangeran Mas Prabu.


Banta Danta segera berangkat malam itu dengan menyeberangi sungai untuk melaksanakan pembunuhan atas Pangeran Tumenggung. Dia pun naik ke atas balai atau panggung tempat Pangeran Suka Rama mendalang dan duduk di sampingnya, sedangkan Pangeran Tumenggung sedang asyik mendalang tidak tahu ada orang yang duduk di sampingnya. Tiba-tiba secepat kilat keris pusaka yang diberikan oleh Pangeran Suka Rama ditusukkan oleh Banta Danta ke tubuh Pangeran Tumenggung, maka matilah ia.


Banta Danta langsung melarikan diri ke seberang sungai. Sesampainya di depan Pangeran Suka Rama dan ingin menyerahkan keris pusaka yang berlumuran darah itu, tiba-tiba Pangeran Suka Rama merebutnya dan langsung mensukkannya ke tubuh Banta Danta hingga mati.


Akhirnya kekuasaan diambil alih oleh Pangeran Suka Rama dan istrinya Pangeran Tumenggung, kakaknya sendiri, yakni Putri Intan Sari yang sedang hamil diambilnya sebagai istri.


Tak lama kemudian Putri Intan Sari melahirkan seorang anak. Pangeran Suka Rama yang tidak sudi mengasuh anak itu memasukkan bayi itu ke dalam sebuah peti, membungkusnya dengan Tapih Sarigading (sarung Sarigading), memberinya alas kain sutra yang indah-indah selengkapnya dan menghanyutkan di sungai.


Menurut cerita, anak bayi yang dihanyutkan di sungai itu kemudian ditemukan oleh seorang penangkap ikan yang bernama Patih Masih dan Patih Muhur. Keduanya melihat sebuah peti yang tersangkut di tengah sungai. Peti itu didatangi oleh mereka dan diperiksa isi dalamnya yang ternyata seorang anak bayi laki-laki. Anak bayi itu dibawa ke belandian, disanalah kedua orang itu tinggal dan anak bayi itu dipelihara di sana sampai ia besar. Anak laki-laki itu diberi nama Raden Jaya Samudera.


---oo00oo—



Raden Jaya Samudera atau Pangeran Suriansyah


Hatta, kita kembali kepada cerita Pangeran Singa Garuda Maha Raja Suka Rama, pamannya Pangeran Suka Rama yang membunuh Pangeran Tumenggung. Sewaktu dia memegang kekuasaan di Candi Agung ada utusan dari Kerajaan Mataram yang datang meminta peti namun ditolaknya. Maka utusan itu pun membawa Ratu Lamak, saudara kandungnya ke tanah Jawa sebagai pengganti upeti.


Selanjutnya ada utusan kedua dari kerajaan Mataram yang datang kemudian. Utusan kedua ini khusus datang membawa tebak-tebakan (cucupatian) yang harus dijawab. Tebak-tebakan itu berbunyi : Berapa banyak jumlah jamban (tempat buang hajat yang dibuat di atas rakit dan diletakkan di tepi sungai) yang ada di tanah Jawa.


Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka dikumpulkanlah orang-orang seluruh negeri Candi Agung sehingga tidak tertinggal seorang pun, namun tidak ada juga yang bisa memberikan jawaban.


Tidak berapa lama kemudian ada orang yang melihat tiga anak kecil di jalan. Oleh raja disuruhlah Patih Luhu untuk membawa ketiga anak kecil ke hadapannya. Ternyata ketiga anak kecil itu tidak berbaju dan bercelana alias bertelanjang. Maka oleh Patih Luhu diberikannyalah pakaian selengkapnya dan diletakkan pakaian itu di pohon beringin di tepi sungai dan ketiga anak kecil itu disuruh mandi membersihkan diri sebelum mengenakan baju dan celananya.


Setelah berbaju lengkap, ketiga anak kecil itu dibawa oleh Patih Luhu ke hadapan raja dan utusan dari kerajaan Mataram. Di hadapan raja dan utusan dari Mataram, salah satu dari anak itu menjawab tebak-tebakan itu dengan mengatakan bahwa jamban itu ada tiga, yakni mereka sendirilah yang dimaksud dengan jamban dari Jawa itu. Ketiga anak dari tanah Jawa itu ternyata sedang mencari tuanya seorang raden yang berada di Candi Agung. Maksudnya sama seperti jamban adalah mereka tidak akan berhenti mencari radennya sampai bertemu dengannya, dan itu sama dengan jamban karena orang yang buang hajat di jamban (w.c.) tidak akan berhenti kecuali terpenuhi keinginannya untuk buang hajat.


Oleh utusan dari kerajaan Mataram jawaban anak itu dibenarkannya, dan dia bertanya siapa nama mereka. Ketiga anak itu menjawab bahwa nama-nama mereka adalah Aji, Mawi dan Sura. Setelah itu utusan itu pulang ke tanah Jawa dan tidak jadi membawa Ratu Anum ke tanah Jawa.

Pangeran Singa Garuda Maha Raja Suka Rama sangat senang dan ketiga anak itu dipeliharanya dan digelarinya Kindu Aji, Kindu Mawi dan Gemarta Sura. Ketiganya kemudian diangkat sebagai patih dan apabila ada permasalahan hukum kemasyarakatan dan kerajaan ketiganya dipanggil untuk menyelesaikannya.


Ceritanya ketiga patih atau menteri Kindu Aji, Kindu Mawi dan Gemarta Sura menghadap raja dan minta izin pergi ke tanah Jawa untuk menjemput Ratu Lamak.


Raja menahan mereka pergi karena ingin membuatkan sebuah perahu dulu sebagai alat transportasi serta menyiapkan perbekalan di perjalanan. Tetapi ketiga patih tersebut tidak mau dan mengatakan itu semua tidak perlu karena besok mereka akan berangkat. Besok harinya orang berduyun-duyun hendak mengantarkan kepergian ketiga patih itu dan ingin tahu bagaimana mereka berangkat ke tanah Jawa tanpa menggunakan perahu. Beratus-ratus orang berdiri di pinggir sungai, begitu juga dengan pangeran tidak ketinggalan ingin menyaksikannya.


Setelah selesai berpakaian dan mengenakan sabuk Cindai, serta memakai laung sasirangan (ikat kepala dari kain sasirangan), lalu berdiri dan berjalanlah ketiga patih itu ke tepi sungai. Yang berjalan di depan adalah Kindu Aji dengan membawa Gandur Bungkusan. Sesampainya di tepi sungai dibukanya dan keluarlah seorang kanak-kanak dan selembar tikar dari rotan. Tikar itu kemudian dibentangkannya di atas air. Ketiga patih kemudian duduk di atasnya sambil memegang ujung tikar rotan yang dijadikan seperti layar.


Kanak-kanak itu menyebut dirinya dengan nama Bayam Sampit. Oleh Bayam sampit ujung-ujung tikar rotan itu dipegangnya, lalu dia terbang di atas air laksana burung garuda membawa ketiga patih yang sekarang berada di dalam tikar ke pulau Jawa. Di waktu sore hari tibalah mereka semua di pulau Jawa, turun di Pasiban dan bertemu dengan orang yang sedang bermain bola.


--oo00oo—



Ketika Pangeran Jaya Samudra sudah cukup besar, dia bertanya kepada kakeknya Patih Muhur mengenai keberadaan ayahnya. Oleh Patih Bandi Andi diceritakanlah dari awal sampai akhir kejadian di Balandian ini, dan diceritakan juga bahwa Pangeran Jaya Samudra mempunyai garis keturunan tanah di sini (Candi Agung) dan juga dari tanah Jawa.


Setelah mendengar cerita dari kedua orang tua tersebut perihal ayahnya dan garis juriatnya, maka berangkatlah Pangeran Jaya Samudra ke tanah Jawa untuk menemui kakeknya Raja Susunan yang bersaudara dengan neneknya, yakni Ratu Anum. Setibanya di negeri Susunan, maka Pangeran Jaya Samudra masuk Islam dan diberi gelar Pangeran Suriansyah dan bergelar Panembahan Batu Habang. Selain itu dia juga mendapatkan bantuan senjata dan membawa seorang ulama dari tanah Jawa untuk dibawa ke Candi Agung, bernama Khatib Dayan yang berasal dari Madura.


Setelah selesai menghimpun segala bantuan dan bekal dari neneknya, Ratu Anum, lalu berangkatlah Pangeran Suriansyah pulang ke Banjarmasin terus menuju Candi Laras mencari Pangeran Suka Rama namun tidak bertemu. Setelah mendengar kabar bahwa Pangeran Suka Rama ada di kerajaan Daha, disusullah ke sana.


Sesampainya di Daha Pangeran Suriansyah berburu menjangan. Seekor menjangan kena dipanah, lalu diperintahkannya Pangeran Agung untuk mengambilnya. Ternyata Pangeran Agung tidak kembali juga karena dia bersama dengan Pangeran Suka Rama pergi melarikan diri. Pangeran Suka Rama lari ke Amandit, sedangkan Pangeran Agung ke kampung Anjau.

Sementara itu kerajaan Daha dan Candi Laras dikuasai oleh Pangeran Suriansyah. Inilah permulaannya kerajaan Islam di Banjarmasin.(Anw)


---oo00oo---


(Bersambung ......)

6 komentar:

dodont88 mengatakan...

lambung mangkurat itu Raja apa patih? kalo patih kok anak keturunanya disebut keturunan raja...nang bujur aja julakai....jangan mangaradau bakisah.(yang bener aja paman jangan asal bercerita bahasa banjar Red)


salam anak banua.

Pengeran Banua mengatakan...

Kenapa penangahan kesah jadi aneh, ada kisah Sangkuriang Segala?
Jua ada kisah Minak Jinggo yang ujungnya jai macam Kisah Ken Arok.

Bujur-bujur pian ni menulis kisah punk, dari mana sumbernya?
Kadakah me igau atau Karya Fiksi aja neh atau pian lain Urang Banjar.

Jangan Ngawur ya???

Pangeran Banua

banjarmasin10 mengatakan...

hehehehehe...kisahnya pina maandu2 banar nah..bingung nang membaca, sama lwn amang bdua ngini...btambah camuh kisah sejarah banjar..dapat dimana pian kisahnya mang...ulun hdk tahu banarai..beda lwn kisah pekayian bahari...

Kumbo Karno mengatakan...

Saya sudah membaca banyak buku sejarah, tapi ini ceritanya sangat ngawur- tidak jelas, karena campur aduk. Mohon maaf sekedar meluruskan cerita

pratama mengatakan...

nah nah nah mangaradau kah pian pun..
kenapa kisahnya pina camuh pun..
dpat d mana pian pun..?????



WANINGPATI

Syamsudin S mengatakan...

sorang bingung jua,,, selain kisahnya yang kesana kemari yang meolah sorang bingung itu hubungan antara Lambung Mangkurat lawan Putri Junjung buih. hubungannya kuitan anak kah atau laki bini kah? soalnya dalam cerita yang lain putri junjung buih tedapat lawan Lambung mangkurat setalah selesai dalam bertapaan balarut 40 hari 40 malam di sungai barito. jadi kada mungkin anak. amun anak tedapat ganal iya