Senin, Oktober 20, 2008

Silsilah Lambung Mangkurat (Bagian I)


Bismillahirrahmaanirrahiim


Kisah keluarga Saudagar Jantam


Pada zaman dahulu kala, ada seorang saudagar bernama Saudagar Jantam di sebuah negeri bernama Sila Negara di Negeri Keling. Dia mempunyai lima orang anak, tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Masing-masing bernama Saudagar Mangkubumi anak yang tertua, Saudagar Keling anak kedua, Dewi Kumala Rawan puteri ketiga, Dewi Sri Jaya puteri keempat dan Empu Jatmika putra yang bungsu. Dewi Kumala Rawan bersuamikan Nabi Haidir, Dewi Sri Jaya bersuamikan Raja Iskandar dan Empu Jatmika beristerikan adiknya Raja Iskandar, Dewi Sekar Gading.


Raja Iskandar adalah anak Raja Darap yang berkebangsaan Rum (Romawi) dengan negaranya bernama Makodonia. Raja Iskandar bergelar Zulkarnain, dan menurut Nabi Haidir, Raja Iskandar Zulkarnain diserahi oleh Allah Swt kerajaan dunia ini dari Barat sampai ke Timur.


Nabi Haidir ternyata mempunyai isteri lagi yakni seorang puteri raja dari kerajaan bawah laut bernama Dewi Kesuma Sari. Kerajaan bawah laut itu bernama kerajaan Gumilang Kaca dan rajanya bernama Betara Bangga Raja. Sedangkan Raja Iskandar Zulkarnain juga mempunyai isteri yang lain, yakni seorang putri dari negeri kayangan, di alam keindraan yang tinggal di dalam Goa Madu Cahaya yang bernama Dewi Kesuma Jaya.


Menurut cerita Saudagar Jantam adalah seorang yang sangat terkenal dengan kekayaan serta kedermawanannya pada masa itu. Harta kekayaannya berupa beratus-ratus gedung penyimpanan harta yang terdiri dari intan permata, yakut, zambrut, nilam baiduri dan berbagai permadani dan kain sutra dewangga.


Pada suatu hari Saudagar Jantam mengumpulkan semua anak-anaknya untuk memberikan wasiat pembagian harta. Kepada ketiga puteranya dia memberikan masing-masing tujuh puluh gedung berisi harta. Sedangkan untuk kedua putrinya dia memberikan sisanya setelah untuk Saudagar Jantam dan isterinya sendiri mengambil sepuluh gedung berisi harta. Pesannya apabila dia dan isterinya meninggal dunia, maka keseluruhan bagian hartanya agar disedekahkan kepada fakir miskin, sekalian ulama dan pendeta serta seluruh rakyat.


---oo00oo---



Syahdan, selama di negeri Keling, Nabi Haidir setiap hari kerjanya hanya keluar masuk hutan. Pagi-pagi sekali berangkat ke dalam hutan dan sore harinya baru kembali ke rumah. Sebagai sesama menantu, Raja Iskandar heran melihat kelakuan saudara maruainya ini, maka dia pun bertanya kepada isteri Nabi Haidir, “Kaka Dewi Kumala, apakah yang dilakukan Kang Mas Nabi Haidir setiap hari masuk dan keluar hutan ? Sepertinya Kang Mas tidak sedang berkebun, pulang ke rumah tidak ada yang dibawa.” Dewi Kumala Rawan menjawab bahwa ia pun tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh suaminya, Nabi Haidir di dalam hutan.


Apabila Nabi Haidir pulang pada tiba dari hutan, maka pada malam harinya Raja Iskandar belajar ilmu agama kepada Nabi Haidir. Lama kelamaan pengetahuan ilmu agama Raja Iskandar pun semakin lengkap dan sempurna, dari ilmu syariat agama sampai ilmu laduni. Maka jadi alimlah Raja Iskandar akan segala ilmu dan hukum dunia dan akhirat.


Rupanya Nabi Haidir tahu pertanyaan dalam hati Raja Iskandar akan tingkah lakunya yang sering keluar-masuk hutan setiap hari itu. Untuk menjawab pertanyaan Raja Iskandar itu, pada suatu hari Nabi Haidir mengajak Raja Iskandar ikut bersamanya masuk ke dalam hutan. Di sana ia menunjukkan kepada Raja Iskandar apa saja yang selama ini disembunyikannya di dalam hutan. Terkejutlah bukan alang kepalang Raja Iskandar setelah mengetahui isi kandang milik Nabi Haidir yang terdapat di dalam hutan itu. Ternyata kandang itu penuh berisikan intan permata, batu yakut, zambrut dan nilam baiduri. Dan kandangnya itu sendiri kelilingnya sejauh perjalanan satu hari !


Setelah hari telah menjelang malam, maka pulanglah Nabi Haidir dengan Raja Iskandar ke rumahnya masing-masing. Setibanya di rumah berkatalah Nabi Haidir kepada Raja Iskandar, “Kalau bukan yang empunya, tidak akan tahu dan tidak akan sayang.” Raja Iskandar mendengar dan memikirkan makna ucapan Nabi Haidir yang sangat dalam itu.


---oo00oo---



Menurut cerita di pulau Borneo (Kalimantan) ada sebuah kerajaan yang sangat besar bernama Kuripan Jaya. Negeri yang terletak di pinggir Gunung Malang ini mempunyai banyak negeri taklukan. Rajanya bernama Ratu Bangsawan yang mempunyai dua orang anak perempuan yang masing-masing bernama Puteri Chandra Dewi dan Puteri Sekar Ratna.


Kerajaan Kuripan Jaya mempunyai 12 (dua belas) orang menteri dan hulubalang, yaitu :


1. Raden Arya Tumandang Nata.

2. Raden Arya Manguntara.

3. Patih Pasya, orang yang asal bisa membaca dan menulis.

4. Patih Luhu.

5. Patih Pambalah Batung.

6. Patih Panimba Sugara.

7. Patih Paruntun Manau.

8. Patih Gancang Basaru.

9. Patih Bajagat.

10.Patih Kariyau.

11.Patih Buntal.

12.Patih Bagalung.


Di tepian negeri Kuripan Jaya ada sebuah negeri bernama Muara Umur. Di sana hidup seorang tua bernama Patih Arya Marangkan yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Dayang Dipraja. Patih Arya Marangkan mempunyai 7 (tujuh) saudara lagi, yakni Patih Tiju, Patih Bajanggut, Patih Batungkat, Patih Luyuh, Patih Pangunjang, Patih Lukah dan Patih Arya Tadung Wani.


Semua kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Kerajaan Kuripan Jaya berada di bawah taklukan Ratu Kuripan. Kerajaan-kerajaan itu antara lain :


A. Kerajaan Batung Batulis dengan rajanya Raden Sunting Laut dengan dua orang patihnya, yakni Patih Jungkiring dan Patih Gurincing.


B. Kerajaan Ratu Pudak Satagal dengan rajanya Raden Pudak Satagal yang mempunyai 24 (dua puluh empat) orang anak. Semua anak-anaknya ini gagah perkasa dan sakti mandraguna, mempunyai aji-aji kesaktian, ada yang bisa jadi gerua (beruang ?), tadung (sejenis ular kobra), macan, menjelma jadi api, ada yang bisa menghilang dan ada juga yang bisa hidup di dalam air.


Adapun cucu-cucunya adalah :


1. Raden Wirun

2. Raden Andaga

3. Raden Perbata Sari

4. Raden Karta Wirya

5. Raden Surabayu

6. Raden Gangga Wisna


C. Kerajaan Gegiling dengan rajanya Gegiling mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Puteri Gading Sepurus. Sedangkan menteri-menteri dan hulu balangnya adalah :


1. Patih Guruh.

2. Patih Guntur.

3. Patih Kilat.

4. Patih Barat.

5. Patih Macan.

6. Patih Tadung.


D. Kerajaan Batung Baparada, yang diperintah oleh patih-patih saja, yakni :


1. Patih Pemarung.

2. Patih Jampung.

3. Patih Bajagat.

4. Patih Ambung.

5. Patih Dambung.


Kalau diceritakan semua kerajaan taklukan yang berada di bawah kekuasaaan Ratu Kuripan Jaya terlalu panjang ceritanya, karena kerajaan yang takluk di bawah kerajaan Kuripan Jaya kurang lebih 39 (tiga puluh sembilan) kerajaan dan semuanya anak-anak raja juga.

Syahdan, di gunung Tengkiling tinggalah seorang tua bernama Niang Bungkiling dengan seorang anaknya yang bernama Indang Sijarang. Pekerjaannya berdagang, berkebun talas, ubi, pisang dan bermacam-macam buah-buahan seperti langsat, manggis, kapul, rumbai dan lain-lainnya.


---oo00oo---



Kembali ke cerita awal tentang keluarga Saudagar Jantam di negeri Keling. Empu Jatmika menuntut harta warisan peninggalan ayah-bundanya kepada kakak-kakaknya. Permintaan tersebut tidak dihiraukan oleh kakaknya yang laki-laki, sehingga gusarlah Empu Jatmika. Empu Jatmika melarikan diri dari rumah pada tengah malam bersama-sama dengan isteri dan keluarganya sekalian dengan menaiki beberapa buah perahu lengkap dengan perbekalan menuju arah matahari terbit.


Singkat cerita perjalanan Empu Jatmika sekeluarga berperahu, tibalah mereka di pulau muara Banjarmasin. Dari sana mereka menuju Bakumpai dan terus masuk ke pedalaman sampai di Marampiau lalu berhenti di sana. Empu Jatmika kemudian menyuruh kedua orang patihnya yang bernama Patih Nala Ginggung dan Patih Sidampalun untuk memeriksa sebuah pulau yang ada di depan mereka. Kedua patih kemudian menaiki pulau itu, menggali dan mengambil segenggam tanahnya lalu dibawakannya segenggam tanah itu ke hadapan Empu Jatmika, dan dirasakannya bahwa tanah itu cukup panas.


Kemudian Empu Jatmika memerintahkan agar semua pokok-pokok kayu yang terdapat di atas pulau itu untuk ditebangi karena Empu Jatmika berencana menjadikan pulau itu sebagai tempat tinggal. Setelah semua keluarganya ikut bekerja menebangi semua pohon kayu di pulau itu selama beberapa minggu, maka sejauh mata memandang tampaklah padang luas terbentang. Empu Jatmika pun memerintahkan lagi kepada kedua patihnya dan sanak keluarganya untuk membuat beberapa bangunan rumah tinggal serta sebuah candi yang sangat indah buatannya di tengah-tengah pulau sebagai tempat memuja Yang Maha Kuasa.


Setelah rampung semua pekerjaan yang dilaksanakan oleh Patih Nala Ginggung dan Patih Sidampalun dengan bergotong-royong bersama semua anggota keluarga, selama beberapa waktu siang dan malam, maka dinamailah kampung baru yang dibangun itu dengan nama Candi Laras.


Tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan Empu Jatmika, patih dan keluarga mendiami kampung baru itu, tiba-tiba pada waktu tengah malam datanglah berita ghaib yang memerintahkan kepadanya untuk pulang ke hulu sungai. Dikabarkan bahwa di sana, di belakang kerajaan Kuripan Jaya terdapat tanah yang panas lagi berbau harum dan ditakdirkan bahwa Empu Jatmika akan mendirikan kerajaan besar di sana dan mempunyai harta yang berlimpah.

Siang harinya Empu Jatmika mengumpulkan segenap orang-orang tua dan menceritakan ilham yang diterimanya tadi malam. Dan sebagai keputusannya Empu Jatmika akan berangkat besok hari, sedangkan yang ditugaskan menunggu Candi Laras adalah Patih Nala Ginggung dan Patih Sidampalun beserta semua keluarganya sebanyak 40 orang.


Keberadaan Empu Jatmika di muara sungai sudah terdengar di keraton Kuripan Jaya. Oleh Ratu Kuripan disuruhlah Patih Luhu untuk menyongsongnya ke muara sungai. Empu Jatmika sendiri sedang sibuk mempersiapkan keberangkatannya ketika utusan Ratu Kuripan, Patih Luhu, sudah datang di Candi Laras. Maka disambutlah kedatangan utusan oleh Empu Jatmika dan Nala Gingging ke muara Balai Longsari dan kemudian disuruh masuk ke dalam balai pertemuan. Diadakan acara adat penyambutan orang besar di sana.


Esok harinya Empu Jatmika bersama dengan Patih Luhu beserta, utusan dari keraton Kuripan Jaya, bersama dengan pengawal secukupnya berangkat dengan menggunakan beberapa buah perahu menuju hulu sungai. Setelah berlayar beberapa hari lamanya, maka sampailah rombongan ke kerajaan Kuripan Jaya, lalu Empu Jatmika dibawa naik oleh Patih Luhu untuk menghadap raja.


Empu Jatmika membawa beberapa buah tangan berupa bingkisan yang dibawanya dari negeri Keling sebagai hadiah bagi raja. Lalu diberikannya bingkisan itu kepada Ratu Kuripan dan disampaikannya permintaannya agar diberi tanah atau wilayah karena hendak ikut berdiam di negeri itu. Oleh Ratu Kuripan permintaan Empu Jatmika dikabulkan dan dia diberi sebuah negeri di seberang negeri Kuripan Jaya.


---oo00oo---



Kisah Patih Lembu Mangkurat dan anak angkatnya Putri Junjung Buih atau Putri Galuh Cipta Sari


Setelah menerima hadiah sebuah daerah kekuasaan, Empu Jatmika pun meninjau daerah baru tersebut. Disuruhnya anak buahnya memeriksa keadaan tanah pulau itu dan ternyata tanahnya panas dan lagi berbau harum. Kemudian disuruhnya ditebangi pohon-pohon di atas pulau itu dan ditinggikannya tanah dibagian tengah pulau sehingga membentuk sebuah bukit. Di sana dibuatkannya tujuh buah rumah besar-besar, cukup kamar-kamarnya dengan segala kelengkapannya. Selain itu dibangunnya sebuah candi yang sangat indah bertingkat-tingkat, dindingnya terbuat dari perak, gangsa dan berukir-ukir dengan sangat indahnya. Atapnya sendiri terbuat dari kaca hablur dan dihiasi dengan sampiran lambaian kain sutera Dewangga dengan berbagai macam corak ragam dan warnanya. Di puncak candi itu dihiasi dengan batu Kumala yang cahayanya berkilauan terpancar ke udara. Siapa saja yang melihatnya pasti takjub dan terheran-heran karena keindahan pancarannya.


Negeri baru yang dibangun oleh Empu Jatmika di wilayah kerajaan Kuripan Jaya itu kemudian diberi nama Candi Agung Negara Dipa. Kemudian seluruh keluarganya, Dewi Sekar Gading isterinya beserta seluruh keluarga kerabatnya diajak mendiami negeri baru itu. Tak berapa lama Empu Jatmika dikarunia oleh Yang Maha Kuasa tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang anak perempuan, yakni : Lembu Jaya Wunagiri, Lembu Mangkurat dan Dewi Keriang Bungsu.


Ketiga anak Empu Jatmika kemudian dikawinkan, masing-masing Lembu Jayawunagiri beristrikan Puteri Candra Dewi, anak Ratu Bangsawan, Lambung Mangkurat beristri Dewi Sekar Ratna, juga anak Ratu Bangsawan, adik dari Puteri Candra Dewi isterinya Lembu Jayawunagiri. Istilah peribahasa “Marampak paring sarapun” yang berarti kakak dengan kakak, dan adik dengan adik.


Sedangkan adik mereka yang bungsu, Dewi Keriang Bungsu bersuami dengan Raden Onbak Gintuya, anak seorang raja dari negeri Cina, yang berkepala botak dan rambutnya berkuncir. Namun nama negerinya tidak disebutkan.


Raja Kuripan kemudian menyerahkan kekuasaan wilayah kepada kedua anak Empu Jatmika, yakni kekuasaan di Kahuripan Jaya diserahkan kepada Lembu Jayawunagiri dengan gelar Patih Mandastana, sedangkan kekuasaan di Candi Agung Negara Dipa diserahkan kepada Lambung Mangkurat.


Anak Raja dari Cina, Raden Onbak Gintuya, suaminya Dewi Keriang Bungsu adik Lambung Mangkurat, meminta ijin kepada mertuanya, Empu Jatmika, untuk kembali pulang ke negerinya, Cina, dengan serta membawa istrinya. Sedangkan anak buahnya yang terdiri dari empat puluh orang Cina yang ahli dalam pertukangan bangunan, membuat patung, ukir-mengukir segala emas-perak, gangsa, kuningan dan tembaga tetap tinggal di Candi Agung Negara Dipa.


Empu Jatmika kemudian berpesan kepada anaknya, Dewi Keriang Bungsu, agar nantinya pulang kembali ke Candi Agung Negara Dipa pada saat diadakan Radap Sasajen atau haul tahunan dengan membawa bermacam-macam barang pecah-belah sebagai alat persediaan acara tahunan itu. Dari yang berukuran besar sampai yang kecil disertai juga alat permainan anak-anak seperti belanga, jambangan, dukun, kendi, gadur, cirat, kucut dan guci. Begitu juga berbagai macam piring, cawan, cangkir, mangkuk dan ciciri, lengkap dari yang besar sampai yang kecil. Ditambah lagi bokor, sesanggan, lancang tempat menginang, peludahan, talam, apar, baki, senduk, wancuh, tatudung, payung, cermin, boneka. Pendek kata semua alat permainan anak-anak di dalam keraton.


---oo00oo---



Syahdan, Lembu Jayawunagiri sudah lama tidak mendapatkan keturunan. Ia lalu meminta dibuatkan tujuh buah ketupat untuk bekalnya bertapa di Gunung Malang (Kandit Barayung). Setelah disediakan berbagai macam perbekalan untuk bertapa, maka berangkatlah Lembu Jayawunagiri naik ke atas puncak gunung itu, lalu duduk bersila ke arah matahari terbit dengan membakar dupa astanggi serta membaca doa puji-pujian terhadap Dewa Mulia Raya agar permohonannya untuk memiliki anak dikabulkan.


Kembali ke cerita Raja Iskandar, iparnya Empu Jatmika, yang mempunyai isteri kedua seorang dari alam keindraan, di wilayah Kayangan Surga Laya Surga Loka yang diperintah oleh Sangiang dan para Betara, yakni Betara Bisnu (Betara Wisnu ?), Betara Guru dan Panji Nerada.

Ketika Raja Iskandar ingin kembali ke dunia untuk menemui isterinya Dewi Sri Jaya, kakak Empu Jatmika, dia berpesan kepada istrinya Dewi Kesuma Jaya, anak Betara Bisnu yang tinggal di Surga Laya, di Gunung Madu Cahya beserta mertuanya, kalau anaknya lahir dari rahim Dewi Kesuma Jaya dan ternyata mempunyai wajah tidak sama dengan orang pada umumnya supaya dibuang saja ke dunia.


Tak beberapa lama genaplah usia kandungan Dewi Kesuma Jaya dan lahirlah seorang anak manusia yang sangat aneh, badannya berlipat-lipat, kepalanya dua dan tangan serta kakinya masing-masing berjumlah empat buah. Menangislah Dewi Kesuma Jaya melihat keadaan anaknya yang tidak sama dengan keadaan umumnya anak manusia. Kakek anak itu, Betara Bisnu, teringat dengan pesan menantunya, Raja Iskandar, lalu diambilnya anak yang baru lahir itu, dibawanya terbang sambil diremuk-remukannya badannya, dijadikannya kembang sekaki, tangkainya satu sulaganya dua, dan digugurkannya ke dunia. Kemudian dikenal dengan nama Kembang Putama atau Cendera Perawangi.


Kembali kepada tapanya Lembu Jayawunagiri alias Patih Mandastana, penguasa di Kahuripan Jaya yang sangat ingin mempunyai anak keturunan. Setelah genap tapanya selama seminggu, ia pun kejatuhan kembang sekaki dari langit, lalu disambutnya dan dibawanya pulang. Diperintahkannya isterinya untuk memakai kembang itu dan tidak beberapa lama kemudian maka buntinglah isterinya.


Setelah cukup hitungan bulan dan harinya, maka lahirlah anak kembar laki-laki dari perut Puteri Cendra Dewi isteri Lembu Jayawunagiri, yang pertama bernama Bambang Patma Raga dan yang adik bernama Bambang Sukma Raga.


---oo00oo---



Syahdan Lambung Mangkurat pun bertapa juga dengan menaiki rakit yang terbuat dari batang pohon pisang saba. Sambil berbaring di atas rakit itu dengan alas selembar daun pisang serta selembar daun lagi menutupi badannya, Lambung Mangkurat berakit mengikuti arus air sungai dari muara Tabalong hingga sampai ke muara sungai Ulak. Di muara Ulak rakit batang pisang itu pun berhenti.


Kembali ke cerita Nabi Haidir yang mempunyai isteri kedua seorang perempuan penghuni negeri Gumilang Kaca yang merupakan negeri bawah laut. Nama isterinya itu adalah Dewi Kesuma Sari, anak dari Betara Gangga. Ketika Nabi Haidir hendak pulang kembali ke dunia, dia berpesan kepada isteri dan mertuanya, apabila anaknya lahir dari rahim Dewi Kesuma Sari mempunyai wajah yang tidak sama dengan umumnya anak manusia maka lebih baik dibuang ke dunia saja.


Tidak berapa lama setelah cukup umur kandungannya, maka lahirlah anak Dewi Kesuma Sari, bentuknya bulat seperti buah semangka dan diberi nama Puteri Jenggala Kediri. Ketika dilihat olehnya anak itu bentuk dan rupanya tidak sama dengan anak manusia kebanyakan, maka menangislah Dewi Kesuma Sari. Mendengar hal itu, sang kakek Betara Gangga teringat akan pesan menantunya, Nabi Haidir, lalu diambilnya anak yang baru lahir tersebut lalu dibawa pergi dan dibuangnya ke dunia.


Singkat cerita ada seorang tua hendak mengambil air di tepian sungai di gunung Tengkiling. Tiba-tiba dilihatnya ada seorang anak bayi terbaring di atas pasir di tepian Niang Bungkiling, diambilnya lalu dibawa masuk ke dalam rumah. Dipanggilnya anak itu dengan nama Galuh Cipta Sari.


Tidak berapa lama semakin besarlah Galuh Cipta Sari dalam pemeliharaan si orang tua. Pada suatu hari, layaknya anak-anak, Galuh Cipta Sari sering mandi di sungai di tepian niangnya, sampai berenang ke tengah-tengah sungai. Kegiatan itu dilakukannya setiap hari. Betara Gangga, raja kerajaan bawah air, kemudian menyuruh Naga Putih untuk menghancurkan gua tempatnya tinggal di bawah air. Ketika sedang asyiknya Galuh Cipta Sari berenang-renang dan menyelam ke dalam air, si Naga Putih menghancurkan gua tempat tinggalnya sehingga pecah, maka keluarlah air bah yang sangat deras ke laut. Galuh Cipta Sari pun gelagapan melihat ada air bah yang sangat deras. Oleh Naga Putih dia diusung dan dibawa berangkat ke muara ulak, tempat Lambung Mangkurat sedang bertapa.


Betapa kagetnya Lambung Mangkurat melihat banyak air di hadapannya berbuih-buih putih dan tiba-tiba terdengar suara anak-anak minta dijemput. Oleh Lambung Mangkurat diraih dan dibukanya tutup yang melindunginya, lalu terdengarlah suara anak-anak dari dalam buih itu. Anak kecil yang bertelanjang itu pun berkata minta dibuatkan Mahligai Punca Persada dengan tiangnya terbuat dari Batung (sejenis kayu) dan membikinnya tidak boleh menggunakan peralatan dari besi.


Adapun nama keempat batung itu adalah


-Batung Batulis

-Batung Baduri

-Batung Badarah

-Batung Baperada, sedangkan tempatnya berada di gunung Umbak Batu Piring dan dijaga oleh dua orang suami isteri yang bernama Patih Renggana. Sedangkan membuat sarungnya hanya satu hari. Demikian permintaan dari Galuh Cipta Sari kepada Lambung Mangkurat.


---oo00oo---



Lambung Mangkurat lalu pulang ke rumah menceritakan hasil pertapaannya kepada kalangannya. Berkumpullah segala menteri, hulu balang, patih-patih, dayang-dayang, inang pengasuh serta seisi keraton Candi Agung dan Kuripan Jaya. Disampaikannya semua permintaan Galuh Cipta Sari dan dibagi-bagilah tugas siapa-siapa yang sanggup mengambil Batung dan membikinnya, dan siapa yang akan membuat sarungnya.


Adapun yang menyanggupi untuk membikin mahligai adalah :


-Patih Luwu

-Patih Luhu

-Patih Pembalah Batung

-Patih Penimba Sugara

-Patih Peruntun Manau

-Patih Gancang Basaru


Ceritanya, ketika sampai di gunung Umbak Batu Piring, Patih Luwu dan Patih Pambalah Batung langsung mencabut batungnya. Keduanya membawa batung itu sampai melompati kampung sampai berhenti di Bumi Kencana, lalu membawa pulang batung ke Candi Agung.


Sedangkan Patih Luhu, Patih Penimba Sugara, Patih Peruntun Manau dan Patih Gancang Basaru berdiri di seberang sungai Umbak Batu Piring sambil memegang Caramin Cangan (sejenis cermin). Dimaksudkan siapa saja yang memandang ke dalam cermin itu, maka ia akan kehilangan tenaga dan hancur luluh badannya, sebab dari dalam cermin itu keluar semacam api.

Ketika kedua patih, Luwu dan Pembalah Batung berhasil mencabut batung, seketika terbangunlah si penjaga batung, Patih Ranggana suami isteri. Keduanya secara tidak sengaja memandang ke dalam cermin yang dipegang oleh keempat patih yang lain, maka langsung jatuhlah ke bumi kedua suami isteri penjaga batung itu. Berhasillah sudah tugas keenam patih yang diutus Lambung Mangkurat dan mereka pun pulang kembali ke Candi Agung.


Selanjutnya pekerjaan membangun Mahligai Panca Persada dilakukan. Tempatnya adalah di sebelah kanan dari Candi Agung, tepat di tepi Danau Badarah. Sedangkan bagian yang membuat sarungnya dikepalai oleh dayang-dayang, antara lain :


-Puteri Ajang Suri Parjang Suri.

-Puteri Ratna Masih.

-Puteri Ratna Biduri.

-Puteri Manik Saruntai.

-Puteri Gading Sepurus.

-Puteri Kertas Melayang.

-Puteri Mayang Segara.


Masing-masing dengan kelihaiannya, ada yang menggilas, ada yang mehaniad, memukul, menasi, Menggintih, menenun, hingga sampailah menjadi selembar sarung yang sangat indah dan diberi nama Tapih Langgundi (Tapih Seri Gading).


Singkat waktu setelah mahligai dan sarungnya sudah selesai, maka Lambung Mangkurat turun ke muara Ulak untuk menjemput Galuh Cipta Sari, anak kecil yang mengadakan permintaan tersebut. Untuk memanggil Galuh Cipta Sari dari dalam air diadakanlah radap sesajen, Dupa Astanggi dibakar dan beras kuning ditaburkan. Tidak berapa lama kemudian muncullah anak itu dari atas buih, lalu disambut dengan Tapih Langgundi (Tapih Seri Gading) oleh Lambung Mangkurat sendiri dan dibawa naik ke atas Mahligai Punca Persada dengan dikawal oleh dayang-dayang dan inang pengasuh. Maka disebutlah namanya menjadi Puteri Junjung Buih.


---oo00oo---



Patih Lembu Jayawunagiri, saudara Lambung Mangkurat, disebutkan mempunyai dua orang anak laki-laki kembar yang merupakan hasil dari pertapaannya yang bernama Bambang Patma Raga dan Bambang Sukma Raga. Setiap hari kedua-duanya bermain-main saja di bawah mahligai bersama kawan-kawannya, yakni Pangeran Karijuddin, Pangeran Sebakung dan Puteri Rumintik Intan.


Permainan yang mereka mainkan seperti main kelereng, basungkut, balugu, bapisak dan mengadu ayam dengan masing-masing kesukaannya. Ayam peliharaan pangeran berwarna putih, kaki kuning, sebagian ekornya berwarna hitam dan alat menimangnya adalah alat kemudi dari besi. Musuhnya adalah ayam merah dengan kaki berwarna kuning, mata kuning dengan alat menimang adalah suraja. Namun ketika diadu, taji ayam yang berwarna putih patah satu. Patahannya jatuh ke tanah di bawah mahligai dan tumbuh menjadi bambu berduri berwarna kuning.


Kembali ke cerita Lambung Mangkurat yang mengadakan acara gugudan di Candi Agung. Ia mengajak keponakannya menjaring ikan ke teluk Gergaji di teluk bersaudara. Maka Bambang Patma Raga dan Bambang Sukma Raga meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk ikut dengan pamannya menjaring ikan ke laut. Ia memintan sepah atau sisa dari kinangan ibunya. Sepah kinangan itu ditanam di sisi tangga rumahnya dan kemudian tumbuh menjadi bunga melati. Apabila bunga melati itu gugur dan layu berarti ia tidak akan pulang ke pangkuan ayah dan bundanya.


Sebelum berangkat keduanya dipeluk dan diciumi oleh ayah dan bundanya. Kemudian keduanya mengiringi pamannya, Lambung Mangkurat naik ke atas lanting atau rakit. Rakit itu kemudian hanyut mengikuti arus sungai sampai ke Teluk Gergaji. Di sana Lambung Mangkurat melempar jaring ke air, tapi sayangnya jaringnya tersangkut sesuatu di dalam air. Olehnya disuruhnya kedua keponakannya untuk menyelam ke dalam air, mencari sebab tersangkutnya jaring itu. Tunggu punya tunggu keduanya tidak muncul ke permukaan air. Lambung Mangkurat kemudian pulang mengabarkan kejadian itu kepada kedua orangtua anak-anak itu. Patih Mandastana dan isterinya jadi bersedih mendengar berita itu karena kedua anaknya itu sedang lucu-lucunya.


Bambang Padma Raga dan Bambang Sukma Raga sendiri sesampainya di dalam air disambut oleh kakeknya Batara Gangga dan dibawa ke Negeri Gumilang Kaca. Keduanya kemudian menjelma menjadi makhluk bawah air. Bambang Padma Raga menjelma menjadi seekor naga yang kemudian tinggal di pusat air laut Sekaterah, sedangkan Bambang Sukma Raga menjelma menjadi bulat seperti buah semangka dan diberi nama Surya Cipta.(Anw)


---oo00oo---



(Bersambung)