Rabu, September 24, 2008

Melayu Indonesia, Saudara Sekandung dengan Melayu Malaysia



Sejarah timbulnya masalah bilateral

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara bertetangga yang mempunyai hubugan unik. Kedua bangsa dengan ras Melayu ini menempati wilayah negara yang saling berdekatan, bahkan satu tanah seperti yang terdapat di Pulau Kalimantan (Borneo). Sebagai bangsa serumpun dan bertetangga dekat, hubungan antara Indonesia dan Malaysia selalu diwarnai oleh gejolak-gejolak yang terjadi di sana-sini. Sejarah mencatat sejak kedatangan Kolonial Belanda di tanah Indonesia dan Imperialis Inggris di tanah Malaysia, serta menularnya semangat kebebasan dan demokrasi di dunia, hubungan antar kedua negara yang menurut sejarahnya di masa kerajaan sangat baik bahkan menjadi sebuah keluarga, akhirnya berwujud menjadi persaingan dua negara berbeda penjajah.

Perbedaan aliran politik yang dianut karena berbeda faham politik dari kedua negara penjajah berbeda, membuat hubungan antar kedua negara menjadi mulai bermasalah. Sikap keras Presiden RI pertama, Ir. Soekarno terhadap sikap politik Malaysia yang menjadi anggota negara persemakmuran Inggris Raya adalah awal memburuknya hubungan itu. Seharusnya Presiden Soekarno pada saat itu mengerti bahwa perbedaan sejarah tidak bisa serta merta menjadikan beliau memaksakan pandangannya yang berbeda.

Pada masa pemerintahan Presiden RI ke-2 Soeharto hubungan kedua negara menjadi lebih baik, ditunjang dengan hubungan antara Perdana Mentri Malaysia pada saat itu, Mahathir Muhammad dengan Presiden Soeharto yang sangat baik.

Di era reformasi politik di Indonesia hubungan kedua negara mulai memburuk lagi. Diungkit-ungkitnya kembali cerita buruk hubungan Indonesia-Malaysia semasa Orde Lama yang dihembus-hembuskan sebagai bahan konsumsi politik salah satu partai politik di Indonesia yang mencoba menarik simpati pendukungnya, menjadi awal buruknya hubungan kedua negara.

Kebijaksanaan pemerintah Malaysia yang tidak mendukung penguasaan pasar uang dan ekonomi secara makro oleh Amerika Serikat (USA) dan antek-anteknya serta tidak mau menjadi kerbau yang dicocok hidung oleh USA menjadi pertentangan politik yang cukup tajam dengan pemerintah Indonesia yang pro USA. Dan terbukti keputusan pemerintah Malaysia itu benar dan membawa dampak ekonomi yang baik di negaranya.

Hubungan baik kedua bangsa serumpun menurut sejarah

Kalau kita mendengar dua orang tetangga bertengkar karena permasalahan sepele, misalnya perkara dahan tanaman yang menjorok ke sebelah rumah sehingga daun-daunnya berjatuhan mengotori halaman tetangganya, itu sih perkara biasa. Apabila kemudian kedua tetangga ternyata bisa berbaikan dan berampun maaf di hari Idul Fitri, tentulah hal sangat indah dan mengharukan.

Keunikan hubungan kedua negara antara Indonesia dan Malaysia bukan hanya karena kesatuan rumpun, yakni ras Melayu, tapi juga karena adanya hubungan dekat yang seperti saudara sekandung. Ada dua hal yang melandasi pendapat saya tersebut, yakni :

1.Fakta sejarah secara umum.

2.Fakta sejarah secara khusus.

1. Fakta sejarah secara umum.

Dalam makalahnya yang dipresentasikan pada Seminar 50 Tahun Merdeka: Hubungan Malaysia – Indonesia di Universiti Malaya, Kuala Lumpur Malaysia pada tanggal 17 Juli 2007 berjudul Malaysia – Indonesia dalam Sejarah: Liku-liku Hubungan Serumpun Sehingga Kurun Ke-19, Abdullah Zakaria bin Ghazali, Jabatan Sejarah Universiti Malaya di Kuala Lumpur mengemukakan bahwa hubungan kedua negara sudah terjadi sejak masa kerajaan Majapahit hingga kerajaan Malaka.

Yang menarik dari hubungan di masa itu adalah cerita berdirinya Singapura. Di dalam makalah tersebut ditulis :

Kerajaan Melaka diasaskan oleh Raja Iskandar (ada juga sumber mencatatkan Parameswara), keturunan Raja Iskandar Zulkarnain. Raja Iskandar ini adalah keturunan Sang Nila Utama yang meninggalkan kerajaan Palembang sebelum membuka Temasik dan ditukar nama kepada Singapura. Dalam Sejarah Melayu dinyatakan yang nama Temasik ditukar kepada Singapura oleh Seri Teri Buana (atau Sang Nila Utama). Mengenai pertukaran nama ini Sejarah Melayu mencatatkan: “Maka Seri Teri Buana pun berbuat negerilah di Temasik, maka dinamai baginda Singapura”. Keturunan baginda memerintah Singapura sehinggalah Raja Iskandar mengundurkan diri dan akhirnya mendirikan kerajaan Melaka. Seri Teri Buana digantikan puteranya, Paduka Sari Pikrama Wira. Seterusnya Seri Rana Wira Kerma, Paduka Seri Maharaja, Raja Iskandar (Permaisura). Raja Iskandar kemudiannya berundur ke Muar, Melaka dan akhirnya mendirikan kerajaan di sini.

Di sini dengan jelas disebutkan bahwa Raja Iskandar adalah keturunan Sang Nila Utama atau Seri Teri Buana yang meninggalkan kerajaan Palembang dan kemudian membuka Singapura. Raja Iskandar kemudian mendirikan kerajaan Melaka.

Dibagian lain makalahnya, Abdulah Zakaria bin Gazhali mengemukakan :

Mengikut Sejarah Melayu hubungan Melaka dengan Inderagiri berlaku di masa Sultan Mansur Shah. Sultan Mansur Shah berangkat ke Majapahit berkahwin dengan Raden Galuh. Tidak lama setelah berkahwin Sultan Mansur Shah bersiap sedia untuk pulang ke Melaka. Ketika persiapan ini Sultan Mansur Shah melalui pembesar baginda, Tun Bijaya Sura memohon Inderagiri daripada Betara Majapahit. Betara Majapahit berbincang pembesarnya, akhirnya bersetuju menganugerahkan Inderagiri kepada Sultan Mansur Shah. Selain itu Betara Majapahit menganugerahkan Jambi dan Tungkal kepada Hang Jebat serta Siantan kepada Hang Tuah.

Kemudiannya Raja Inderagiri, Raja Merlang datang ke Melaka. Ketika berada di Melaka, Raja Merlang dikahwinkan oleh Sultan Mansur Shah dengan puteri baginda, Raja Bakal. Raja Merlang tidak dibenarkan pulang oleh Sultan Mansur Shah ke Inderagiri. Perkahwinan Raja Merlang dengan Raja Bakal melahirkan Raja Nara Singa. Raja Nara Singa menduduki takhta kerajaan Inderagiri dan memakai gelaran Sultan Abdul Jalil.

Hubungan selanjutnya ini ternyata lebih menarik, karena hubungan yang terjalin dengan baik hingga terjadi penghadiahan tanah dan wilayah kerajaan berlanjut kepada terjadinya perkawinan antara keluarga kerajaan. Di sini saja kita sudah bisa menarik kesimpulan bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia adalah hubungan keluarga, yang berarti pada anak keturunan berikutnya adalah hubungan sedarah.

Lebih jauh semasa pemerintahan kerajaan Johor

Sultan Sulaimanan Badrul Alam mangkat pada tahun 1760, dan takhta kerajaan Johor digantikan oleh putera baginda, Sultan Abdul Jalil Muazam Shah. Tidak sampai setahun memerintah Sultan Abdul Jalil Muazam Shah mangkat pada tahun 1761. Dengan itu takhta kerajaan Johor digantikan oleh putera baginda yang masih kecil, Sultan Ahmad. Sultan Ahmad mangkat pada tahun yang sama, 1761, dan takhta kerajaan Johor digantikan oleh adinda baginda, Sultan Mahmud. Sultan Mahmud memulakan pemerintahan di Bintah, dan kemudiannya berpinda ke Lingga. Sultan Mahmud memerintah Johor sehingga baginda mangkat pada tahun 1812. Apabila baginda mangkat Tengku Abdul Rahman dilantik dan ditabalkan sebagai Sultan Johor bersemayam di Lingga. Manakala putera sulung baginda, Tengku Husinn dilantik sebagai Sultan Johor pada tahun 1819, bersemayam di Singapura. Mulai tahun 1819, kerajaan Johor berpecah dua, dan akhirnya berkuat kuasa Perjanjian London, 1824, kerajaan Johor terus dipecahkan. Kepulauan Riau-Lingga di bawah pengaruh Belanda, dan seterusnya menjadi kawasan Indonesia.

Selengkapnya baca makalah dimaksud di sini

Selain hubungan dengan Riau, kerajaan Johor juga menjalin hubungan yang sangat dekat dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Nusantara – sekarang Indonesia – seperti Aceh, Jambi, Sulawesi dan Kalimantan.

Yang terjadi di Kalimantan Selatan dalam sejarah berdirinya kerajaan Banjar – lihat di sini - sangat jelas diceritakan :

Jabatan Penghulu pada masa-masa awal Kerajaan merupakan jabatan urutan ketiga dalam urutan kepangkatan, setelah Sultan dan Mangkubumi. Urutan itu berlaku pula dalam segala kegiatan resmi yang diadakan oleh Kerajaan. Tersebarnya agama Islam erat kaitannya dengan memasyarakatnya bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) antar suku di Kalimantan Selatan, karena agama Islam disebarkan dengan pengantar bahasa Melayu dengan menggunakan huruf Arab-Melayu. Huruf Arab-Melayu ini ternyata sudah dikenal di sekitar penduduk Melayu yang disebut Oloh Masih. Surat yang dikirimkan ke Kerajaan Demak oleh Raden Samudera untuk meminta bantuan dalam memerangi pamannya Pangeran Tumenggung dari negara Daha tertulis dengan huruf Arab-Melayu dan dalam bahasa Melayu padahal saat itu Raden Samudera masih beragama Hindu. Huruf Arab-Melayu itu menjadi huruf yang dipakai dalam Kerajaan Banjar dalam setiap perjanjian dengan belanda. Undang-undang Sultan Adam 1835 juga tertulis dengan huruf Arab-Melayu dan dalam bahasa Melayu-Banjar.


Begitu pula selanjutnya para ulama yang menyusun kitab-kitab agama selalu menggunakan bahasa Melayu dengan huruf Arab-Melayu pula, sebagai contoh adalah :


a. Kitab Sabilal Muhtadin oleh Muhammad Arsyad Al Banjari selesai ditulis pada 22 April 1781.

b. Kitab Ad Durrun Nafis oleh Syekh Muhammad Nafis bin Ideris Al Banjari yang ditulis pada tahun 1785.

c. Kitab Shirathol Mustaqim yang oleh Syekh Nuruddin Ar Raniri (Aceh) ditulis sekitar permulaan abad ke- 18.

d. Kitab Tuhfat al Raghibin oleh Syekh Muhammad Al Banjari.

e. Kitab Parukunan oleh Mufti Jamaluddin ibnu Muhammad Arsyad Al Banjari Mufti Kerajaan Banjar, tanpa tahun.

f. Parukunan Basar oleh Fatimah binti H. Abdul Wahab Bugis, cucu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, tanpa tahun.

g. Kitab Hidayatusalikin oleh Syekh Abdussamad Palimbani (Palembang), teman Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sewaktu mengaji di Mekkah.

h. Kitab Sairussalikin oleh Syekh Abdussamad Palimbani 2 Jilid, tanpa tahun.

Ternyata pengaruh pertama masuknya agama Islam di masyarakat asli di Kalimantan Selatan adalah dari orang-orang Melayu yang disebut Oloh Masih, bahasa Dayak yang berarti orang Melayu. Bahkan kemudian pengaruh budaya Melayu dan juga terjadinya asimilasi (perkawinan) antara suku lokal (Dayak) dengan orang Melayulah yang kemudian menjadi suku Banjar.

2. Fakta sejarah secara khusus

Selain fakta sejarah secara umum yang sudah tercatat di dalam lembaran-lembaran sejarah resmi, patut saya kemukakan bahwa ada fakta khusus yang terjadi di lingkungan keluarga saya yang berhubungan dengan tulisan saya ini.

Menurut data yang diterima oleh almarhum ayah saya, Haji Syahran bin H. Matnuh (almarhum) disebutkan bahwa kakek moyang kami adalah orang yang berasal dari tanah Melayu, Malaysia. Kemudian berdasarkan data dari ayah kami tersebut yang menyebutkan nama kakek buyut kami (ada dua nama setelah kakek saya, yakni Haji Syahran, ayah kami, bin H. Matnuh bin Idjal bin Shaharaf), maka kami pun mengadakan penelusuran sampai ke kampung halaman kami di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.

Dari hasil penelusuran tersebut kami berhasil mengumpulkan nama-nama anggota keluarga dari keturunan langsung kakek buyut kami tersebut hingga terkumpul lebih dari 1.000 nama. Sebuah keluarga besar terbentuk setelah kami melakukan pengumpulan data hingga 3 (tiga) tahun (Maret 2003 sampai dengan tahun 2006). Semua nama tersebut dirangkumkan dalam sebuah buku silsilah, yang berjudul Silsilah Keturunan Datuk Shaharaf, Kandangan Hulu Sungai Selatan.

Kembali ke cerita adanya kemungkinan bahwa kakek buyut kami berasal dari tanah Melayu, Malaysia adalah berdasarkan cerita dari tetuha-tetuha kami yang pernah menyebutkan ada salah seorang anggota keluarga kami yang merantau ke Malaysia menyusul keluarga yang ada di sana.

Namun ternyata kami mengalami banyak kesulitan dalam penelusuran sejarah kakek buyut kami ini dan hubungannya dengan kakek buyut yang ada di Malaysia (menurut keterangan kemungkinan ada di Johor). Bahkan ada keterangan terakhir yang menyebutkan adanya kemungkinan terhubung juga dengan kerajaan Brunei.

Sebagai data tambahan, dikemudian hari kami juga menerima data nama-nama kakek buyut kami, yakni sebagai berikut :

Anwariansyah (saya, 36 tahun) bin Haji Syahran bin H. Matnuh (Muhammad Nur ?) bin Idjal (Muhammad Abdul Djalil) bin Saharaf (Sahraf) bin Muhammad bin Salahuddin bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Alwi bin Muhammad bin Ja’afar.

Bagian yang bercetak tebal adalah nama kakek buyut yang keberadaannya di masa lalu belum bisa dipastikan, apakah di Indonesia atau di Malaysia. Menurut keterangan yang diterima oleh kami, kakek buyut kami yang bernama Salahuddin masih menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari.

Walaupun penelusuran sejarah nenek moyang kami ini sampai sekarang masih menemui jalan buntu, mudah-mudahan kemudian hari Allah Swt membukakan jalan sehingga kami dapat menemukan kejelasan sejarah dan mungkin juga akan berkembang menjadi suatu jalinan silaturrahim yang lebih luas dengan keluarga hingga ke Malaysia. Amin.

Permasalah bilateral sekarang ini yang perlu segera diatasi.

Adanya kejadian yang tidak mengenakkan hati akhir-akhir ini di antara kedua bangsa, seperti masalah traficking (perdagangan orang), penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia di sana, masalah wilayah perbatasan dan pelintas batas kedua negara, pengakuan produk seni dan budaya dan lain-lain sebetulnya tidak akan terjadi seandainya hubungan bilateral antar pemerintahan kedua negara dan juga komunikasi antar kedua bangsa, baik masyarakat pemuda, seni dan juga kaum cendekiawannya terjalin dengan baik.

Sebetulnya tidak ada keuntungan yang didapat dari perpecahan dan permusuhan selain kerugian yang lebih besar. Apalagi pada saat dibutuhkan kerjasama dan persaudaraan untuk menghadapi permasalahan bersama. Diakui atau tidak kebenaran pernyataan saya ini, nantinya Indonesia dan Malaysia akan berada pada situasi dan kondisi harus bekerjasama dalam menghadapi musuh yang lebih besar dan kuat. Indonesia dan Malaysia dengan unsur masyarakat Muslimnya yang cukup besar dan dominan akan menjadi salah satu pilar kuat dalam menghadapi perkembangan yang dahsyat dan membahayakan kedudukan kaum Muslimin, baik di Indonesia dan Malaysia, bahkan di dunia secara luas.

Akan berkesan naif apabila di era kemajuan teknologi komukasi seperti sekarang ini, kedua bangsa yang sebetulnya adalah dua saudara kandung serumpun menjadi tidak bertegur sapa dan saling tidak mempedulikan. Insya Allah, di dalam tulisan lain saya akan berbicara mengenai perkembangan Islam di masa yang akan datang sampai tibanya masa kehadiran Sang Mujahid Al-Akbar, Muhammad Al-Mahdi bin Abdullah yang tidak akan bisa dilepaskan dari hubungan baik antar umat Islam kedua negara, baik ditinjau dari segi sejarah maupun kekinian.

Wallahu a’lam bish Showab. Wassalam.

3 komentar:

INDONESIAN BLOG mengatakan...

Ya! saya setuju indonesia malaysia memang harus bersatu untuk yang lebih baik! silahkan baca posting saya yang baru. trm ksh

Kamal Ansyari mengatakan...

Tolong jaga dan lestarikan alam hutan Loksado dari penambang-penambang yang hanya menginginkan uang dan harta tanpa memikirkan kerusakan hutan nantinya.
Hutan ini adalah warisan untuk anak cucu kita di masa depan.

Kamal Ansyari mengatakan...

Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti datuk panglima amandit, datung suhit dan datu makandang, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh/sindayuhan dan datu intingan/bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak/mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran, datu balimau, datu daha, datu kubah dingin, habib nagara dan habib lumpangi, kubur enam orang pahlawan di ta’al, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.